"Ma, sini ma! Ada ulat bulu lho!", kata Keenan sambil menarik-narik tangan saya. "Ayo ma, sini!", pintanya lagi
Buku karya Salim A. Fillah yang baru dibaca satu halaman itu mau tak mau segera ditutup, "Oke, anak dulu, win! Bacanya belakangan!"
Keenan terus menarik tangan saya ke keluar rumah.
"Sebentar dik, mama ambil kerudung dulu!". Ini pasti ada sesuatu yang istimewa hingga ibunya dipaksa keluar rumah buru-buru.
"Malu ya ma, kalau ndak pake kerudung?", tanyanya.
"Iya, sholih!", jawab saya singkat.
Ah, saya sedang tidak ingin menjelaskan urusan per'kerudung'an ini padanya.
Sampai di luar rumah, ternyata saya mendapati Alvin sudah berdiri di salah satu pot tanaman depan rumah tetangga nomor 22.
"Ini kata adik ada ulat bulu. Emang iya?", tanya saya.
"Iya, sini ma! Coba lihat ini!", kali ini giliran Alvin yang meminta.
Kami bergeser ke depan pot tanaman rumah nomor 24 A. Sebuah tanaman cukup rimbun coba disibak beberapa helai daunnya oleh Alvin. Seekor hewan kecil panjang warna hijau muda, tampak sedang melekat pada salah satu daunnya.
"Ini ma!..Ini!", kata Keenan excited.
"Ini ulat bulu ya, ma?", tanya Alvin. Saya coba memperhatikan sekeliling tubuh ulat tersebut.
"Kayaknya badannya ndak ada bulunya ya, kak? Coba perhatikan lagi!", kata saya ragu.
Alvin berusaha memperhatikan lebih seksama.
"Iya.. Jadi ini ulat apa, ma?", tanyanya penasaran.
"Hhhmmm.. mama juga belum tahu. Nanti kita cari tahu sama-sama ya!" kata saya.
*****
"Ma, sini deh! Tak tunjukin laba-laba nangkap lalat!", kata Alvin.
Tangan saya ditarik lagi. Kami bergeser ke depan rumah tetangga nomor 22. Tempat Alvin berdiri sebelumnya.
"Coba lihat, ma!". Dia menunjuk ujung atas daun.
Tampak seekor laba-laba mencengkram seekor lalat. Rupanya dua hewan ini yang tadi sedang diperhatikannya.
Keenan menyerobot posisi depan, ingin melihat juga. "Lihat, ma.. lihat!".
Saya mundur sedikit memberinya ruang untuk memperhatikan.
"Lalatnya itu kena jebakannya laba-laba ya, ma?, tanya Alvin.
"Sepertinya begitu!", jawab saya.
"Kasihan ya, ma!", katanya lagi.
Saya tersenyum mendengarnya. "Allah sudah mengatur semuanya, kakak! Allah Ar Razzaq. Allah yang mengatur gimana caranya laba-laba itu dapat rezeki lalat hari ini. Bukankah laba-laba juga butuh makan?"
"Iya. Biar laba-labanya tetap hidup ya, ma?"
"Betul sekali", kata saya.
*****
Belum selesai memperhatikan peristiwa itu, tangan saya ditarik lagi.
"Ayo, ma! Tadi di sebelah situ ada kepik". Kami bergeser lagi. Kali ini pindah ke seberang, ke depan pot tanaman rumah tetangga nomor 17.
"Tadi disini ada kepik", katanya. Dia berusaha mencari kepik yang dimaksud tadi.
"Oh, itu ma kepiknya!". Tangannya menunjuk ujung daun sebelah kanan atas. Mata minus berat ini membuat saya agak kesulitan menemukan hewan yang dimaksud.
"Mana, kak?", rupanya Keenan juga belum menemukan.
"Itu lho, dik! Kepiknya jalan-jalan!", katanya lagi sambil menunjuk-nunjuk.
"Ooo iya iya.. keliatan. Sini Keenan!", kata saya pada Keenan. Seekor kepik terlihat berjalan-jalan diantara batang daun.
Saya heran, bagaimana Alvin bisa begitu detil memperhatikan hewan mungil ini berada diantara rimbunnya dedaunan. Saya saja harus membelalakan mata mencari. Dan me-zoom maksimal kamera handphone ini untuk mengambil gambar. Sampai-sampai tetangga yang dari tadi memperhatikan kami juga takjub, koq bisa Alvin jeli melihat hewan mini itu.
![]() |
| Foto : dokumen pribadi |
*****
Peristiwa hari ini menjadi catatan penting untuknya. Rupanya sang putra sulung memulai langkah awalnya menjadi pembelajar mandiri. Belajar mengamati lingkungan sendiri dan "membaca" maestro Sang Pencipta.
Kejadian hari ini juga menorehkan catatan potensi uniknya. Ada kemampuan melakukan "pengamatan jeli" yang ada pada dirinya. Dan ini bukan untuk pertama kalinya. Potensi bakat apakah ini gerangan?
Ah, tampaknya ibumu ini masih harus membuka kembali catatan Pandu 45 tentang potensi bakat.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar