Kejadian 1 :
Dalam perjalanan pulang selepas menjemput kakaknya sekolah, Keenan mendadak resah ketika mendengar adzan.
“Lho ma, terlambat. Sudah adzan. Tek - tek nya sudah diambil anak-anak. Aku ndak bisa tek-tek, maaa!!”.
Raut mukanya yang tadinya riang mendadak berubah dari cemberut kemudian beralih menjadi sedih. Sepanjang perjalanan hingga sampai di rumah tidak ada lagi celotehan darinya.
*****
Kejadian 2 :
“Ayo ma, cepetan! Aku mau tek - tek!”, kata Keenan terburu-buru.
Keenan yang baru saja buang air besar mendadak gusar. Dia ingin segera keluar rumah. Setelah selesai beristinja’, buru-buru dipakai celana panjangnya, kemudian berlari ke luar rumah.
Kejadian 3 :
Menjelang Maghrib, lantunan ayat suci Al Quran mengalun dari speaker masjid.
“Ma, itu sudah ngaji. Aku ke masjid dulu ya!
Keenan beranjak dari tempat duduknya. Masuk ke dalam kamar, membawa celana panjang dan peci, kemudian berlari ke luar rumah setelah mencium tangan saya dan mengucap salam.
*****
Kejadian 4 (Hari Ini)
“Mama, aku ke masjid dulu ya!”
“Masih setengah lima, dik! Masih lama adzannya”
“Nggak papa. Aku mau tunggu di masjid!”
Keenan bergegas mengambil celana panjangnya kemudian beranjak ke luar rumah.
Selang 15 menit kemudian dia kembali ke rumah.
“Assalamualaikum”
“Waalaikumsalam. Lho koq balik lagi, dik?”
“Iya, belum denger ngajinya”
Kemudian dia merebahkan diri di kasur busa ruang tengah. Setelah kenyang meminum susu yang diminta, ternyata Keenan terlelap. Sepertinya memang kelelahan, karena sedari siang dia lebih memilih bermain daripada tidur.
Ketika ba’da Maghrib ternyata Keenan terbangun, merengek tapi saya tak paham maksudnya. Saya ajak ke kamar mandi karena melihat tanda-tanda akan buang air kecil, tapi setelah keluar kamar mandi malah menangis.
“Dik Keenan masih ngantuk nggih?”
“Huwwaaaa!”, tangisannya pecah.
“Ooo.. Masih capek nggih?”
“Aku ndak capek.. Aku ndak ngantuk.. Aku mau... Huwaaaa.. Huwaaaa!!”
“Dik Keenan, mama ndak ngerti kalau Dik Keenan ngomongnya sambil nangis! Tenang dulu nggih!
Saya raih badannya kemudian saya peluk dia. “Diselesaikan dulu nggih nangisnya!”. Saya mencium kening dan terus mengusap lembut punggungnya. Saya memang sengaja membiarkan Keenan menangis sebentar. Meluapkan emosinya hingga cukup tenang untuk diajak berbicara.
“Dik Keenan sedih nggih?“
Dia manggut-manggut.
“Mama mau lho dibagi sedihnya, boleh?”
“Aku mau nabuh, ma!! Aku mau tek-tek! Tapi sholatnya sudah selesai!”, katanya sambil terisak.
“Ooo..”. Saya baru paham sekarang.
Rupanya Keenan ingat kalau tadi mau nabuh bedug. Pulang sebentar maksudnya mau nunggu datangnya adzan, tapi malah ketiduran.
“Mmm.. masih ada sholat satu lagi kan ya?”, kata saya sambil tersenyum.
“Oh, iya”, dia bangkit dan bergegas mencari celana panjangnya.
*****
Tek - tek..
Keenan biasa menyebutnya demikian. Maksudnya memukul tiang bedug masjid. Tadinya saya pikir, dia hanya ingin melihat kakak dan teman-temannya bergantian menjadi pemukul bedug masjid. Tapi, sepertinya Keenan pernah dan sekarang mendapat kesempatan yang sama (meski baru menjadi pemukul rangka / tiangnya bedugnya di awal saja).
Bedug tua yang berusia lima generasi itu (sejak kakek buyut saya), rupanya menjadi daya tarik tersendiri. Keenan sepertinya menemukan sparkling joy ketika menabuh. Dan menunggu waktu adzan (sholat), sepertinya juga menjadi sparkling moment untuknya. He loves it! And dont wanna miss it!
Teringat kalimat Ustad Harry, Sang Guru FBE ketika dialog privat dengan beliau :
“Di usia Keenan saat ini, imaji dan abstraksinya memang sedang pada puncaknya. Alam bawah sadarnya sedang terbuka lebar. Ini menjadi kesempatan untuk mengenalkan Allah karena akan langsung masuk ke alam bawah sadarnya. Kenalkanlah sampai tahap cinta penuh dan amazing pada Allah. Kelak akan nampak pada gairahnya akan sholat, Al Quran, nama Allah disebut, bukan pada tertibnya!”.
Keenan memang belum bisa tertib sholat seperti kakak atau teman main lainnya (yang lebih tua usianya). Saya juga (sedang) tidak ingin menggegasnya. Tapi bedug tua dan kegiatan “tek - tek” itu, semoga semakin menambah imaji-imaji positif (yang sedang dibangun) tentang-Nya. Hingga kelak akan tumbuh persepsi yang indah dan pensikapan yang baik. Dan kelak akan menerima sholat dengan gembira ketika berusia 7 tahun.
Aamiin ya rabbal alamiin..
*****
Tek.. trek.. tek.. tek.. tek.. tek.. tek..
Dug.. drug.. dug.. dug.. dug.. dug.. dug.
Tek.. trek.. tek.. tek.. tek.. tek.. tek..
Dug.. drug.. dug.. dug.. dug.. dug.. dug.
Tampaknya para penabuh bedug cilik mulai beraksi. Seketika terbayang wajah Alvin dan Keenan di pelupuk mata. Memainkan dua alat pemukul bedug secara bergantian.
Ya Rabb, jadikanlah mereka generasi hebat, yang kelak memberikan peran peradaban dengan akhlak mulianya.
Aamiin ya rabbal alamiin..
#Portofolio.FBE.Keenan4y3m
#ODOPfor99days
#Day10
Tidak ada komentar:
Posting Komentar