13 Januari 2016

[Emergency First] Kejang Demam pada Anak


Malam itu Alvin gelisah sekali. Putraku yang baru berusia 2 tahun ketika itu sedang sakit. Badannya demam tinggi, tubuhnya juga menggigil. Obat penurun demam sudah kuberikan. Begitu juga usaha mengompres kepalanya pun sudah kulakukan. Entah kenapa demamnya tidak segera turun. Sementara rasa kantukku mulai tidak tertahankan. 

Saya pun terlelap sejenak, namun kemudian terbangun ketika melihat Alvin mulai tidak tidur nyenyak karena sering terbangun, seperti orang kaget terus-menerus. Aduh nak, kamu kenapa? Kejadian seperti itu terus berulang hingga beberapa kali. Dan akupun masih belum paham apa yang akan terjadi selanjutnya.

Mendadak dia berteriak keras, matanya mengarah ke atas, mulutnya terkatup, dan badannya mulai menggeliat-geliat. Anakku kejang. Aku panik dan berteriak sekeras-kerasnya memanggil ibuku. Semua penghuni rumah terbangun. Mereka terkejut dan berusaha memberi pertolongan. Saat itu aku hanya bisa menangis sambil terus memanggil nama putraku. Sementara ayah dan ibuku, mereka berusaha melakukan berbagai cara untuk membuatnya sadar kembali. Kejadian itu berlangsung kurang dari 5 menit.

Putraku dilarikan ke salah satu rumah sakit pemerintah di kotaku. Banyaknya pasien yang sedang ditangani di bagian Instalasi Gawat Darurat di rumah sakit tersebut, memaksaku untuk memindahkan penanganan putraku ke rumah sakit lainnya. Alhamdulillah, putraku segera ditangani dan harus menjalani rawat inap selama beberapa hari untuk pemeriksaan lebih lanjut. 

Radang tenggorokan ternyata penyebabnya saat itu. Penyakit yang hingga saat ini selalu membuatku waspada setiap kali Alvin mengalami demam. "Jangan pernah terulang lagi hingga usia 6 tahun ya, bu!", pesan dr. Hartoyo, Sp.A.

Semenjak kejadian itu, aku mulai mencari segala informasi tentang kejang demam. Apa itu kejang demam, apa saja tanda-tandanya, bagaimana upaya pencegahannya, hingga bagaimana pula upaya penangannya. Setelah itu aku baru paham, ternyata ketika Alvin mulai gelisah dan sering terbangun waktu itu, itulah tanda-tanda awalnya. Astagfirullah hal dzim. Tidak pernah ada kata terlambat, sepanjang kita terus berusaha memperbaiki setiap kesalahan.

Pesan dr. Hartoyo, SpA saat itu benar-benar kucamkan hingga saat ini, bahkan setelah Alvin melewati usia 6 tahunnya. Sekarang setiap kali Alvin atau Keenan demam, saya dan suami memilih untuk tidak tidur dan bergantian jaga hingga demam mereka turun. Kejadian itu benar-benar menjadi pelajaran berharga untuk kami. 


***

Saya yakin siapapun tidak pernah ingin mengalami kejadian yang sama seperti yang pernah kami alami dulu. Semoga para ayah bunda bisa belajar dari pengalaman kami. Berikut adalah rangkuman artikel tentang kejang demam yang bisa dipelajari lebih lanjut : 

Kejang demam pada anak merupakan salah satu kasus yang paling sering ditemukan dikehidupan kita sehari-hari. Pernahkah anda melihat anak yang mengalami kejang-kejang?
Kejang sendiri terjadi akibat adanya kontraksi otot yang berlebihan dalam waktu tertentu tanpa bisa dikendalikan. Salah satu penyebab terjadinya kejang demam yaitu tingginya suhu badan anak. Timbulnya kejang yang disertai demam ini diistilahkan sebagai kejang demam (convalsio febrillis) atau stuip/step. Biasanya terjadi karena infeksi virus.
Perlu diperhatikan, toleransi masing-masing anak terhadap demam sangatlah bervariasi. Pada anak yang toleransinya rendah, maka demam pada suhu tubuh 38 C pun sudah bisa membuatnya kejang. Sementara pada anak-anak yang toleransinya normal, kejang baru dialami jika suhu badan sudah mencapai 39 C atau lebih. 
Penyakit yang dapat menyebabkan kejang : 
  • Faktor keturunan
  • Batuk pilek
  • Radang tenggorokan
  • Infeksi telinga
  • Trauma saat lahir
  • Trauma kepala
  • Infeksi atau radang otak
  • Tumor otak
  • Perdarahan otak
  • Kelainan bawaan pada otak atau susunan syaraf pusat
  • Gangguan metabolism dan elektrolit
  • Reaksi alergi
  • Keracunan obat atau bahan kimia 
Ciri-ciri kejang :
Tentu saja dalam hal ini orang tua harus bisa membaca ciri-ciri seorang anak yang terkena kejang demam. Di antaranya: 
gambar : buletinkesehatan.com
  • Kedua kaki dan tangan kaku disertai gerakan-gerakan kejut yang kuat dan kejang-kejang selama 5 menit  
  • Bola mata berbalik ke atas
  • Gigi terkatup
  • Muntah
  • Tak jarang si anak berhenti napas sejenak.
  • Pada beberapa kasus tidak bisa mengontrol pengeluaran buang air besar/kecil
  • Pada kasus berat, si kecil kerap tak sadarkan diri. Adapun intensitas waktu kejang juga sangat bervariasi, dari beberapa detik sampai puluhan menit.
Bahaya kejang pada anak 
Umumnya, kejang yang terjadi dalam waktu singkat tidaklah berbahaya. Namun, perlu diwaspadai bila kejang berlangsung lama (lebih dari 5 menit) dan sering berulang. Karena, setiap kali kejang akan terjadi kerusakan sel-sel otak akibat kekurangan oksigen dalam otak. Sehingga, semakin lama dan semakin sering kejang terjadi, sel-sel otak yang rusak akan semakin banyak.

Apa yang harus dilakukan bila terjadi kejang demam pada anak di rumah?
  • Rebahkan anak Anda di lantai atau matras yang beralas lembut. Jangan merebahkan anak di ranjang yang sempit sehingga berisiko terjatuh, sambil ukur suhu dengan thermometer bila tersedia di rumah. 
  • Jika anak mulai muntah atau banyak air liur di mulutnya, pelan-pelan miringkan tubuhnya agar dia tidak tersedak dan untuk menghindari tersumbatnya jalan nafas. 
  • Longgarkan pakaian yang ketat, terutama di sekitar leher, dan dada.
  • Singkirkan benda-benda berbahaya yang dapat melukai dia.
  • Jangan menahan gerakan anak Anda selama kejang.
  • Jangan menaruh benda apa pun ke dalam mulutnya. Dahulu orang biasa menempatkan batang kayu atau sendok di mulut anak untuk mencegahnya menggigit lidah, tapi itu adalah gagasan yang buruk karena berisiko merusak gigi dan cedera mulut lain.
  • Cobalah untuk tetap tenang. Kejang akan berhenti sendiri dalam beberapa menit.
  • Fokuskan perhatian Anda untuk menurunkan demamnya.
  • Jangan memberi minuman ataupun makanan segera setelah berhenti kejang, tunggu beberapa saat setelah anak benar– benar sadar untuk menghindari anak tersedak.
Bagaimana cara menurunkan suhu tubuh anak yang sedang mengalami kejang demam? 
  • Bila tersedia, masukkan diazepam dalam bentuk supositoria semi padat ke dalam anus anak untuk mempercepat penurunan demam, karena pada saat kejang tidak memungkinkan untuk minum obat penurun panas.
  • Kompres bagian ketiak dan lipatan paha dengan air hangat. Tidak dianjurkan mengompres anak saat kejang dengan air dingin atau alcohol karena justru dapat meningkatkan suhu tubuh anak.
  • Jangan mencoba menurunkan suhu tubuh dengan memindahkan anak ke tempat yang terlalu dingin, cukup dengan membuka jendela.
  • Bila kejang sudah berakhir, anak akan terjaga beberapa saat setelah kejang. Namun harus tetap waspada karena kejang bisa berulang. Segera periksakan anak ke Dokter untuk mencari tahu penyebab kejangnya, apa hanya karena demam atau ada factor lain. Anda juga harus perhatikan berapa lama anak kejang, semakin lama anak kejang semakin berbahaya dan mengancam jiwa.


Semoga kita semua menjadi lebih waspada ketika anak sedang demam.

Semoga bermanfaat! :)

Sumber bacaan :

  1. http://doktersehat.com/mengatasi-step-stuip-kejang-demam-pada-bayi-dan-balita/
  2. http://buletinkesehatan.com/bahaya-kejang-demam-pada-anak-dan-langkah-langkah-yang-harus-dilakukan-saat-anak-kejang-1/


#ODOPfor99days #Day8

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...