12 Mei 2016

"Toilet Wanita" - Harusnya kuendapkan lebih dulu


"TOILET WANITA"
Ketika dua kata itu terpampang di depan sebuah pintu, orang yang punya kemampuan membaca excellent, pasti sangat paham fungsi ruangan itu.
Apa yang terjadi kemudian adalah ketika dua wanita berkerudung - terburu-buru ambil wudhu supaya bisa ikut jamaah - nyatanya harus mengantri di depan "Toilet Wanita". Sementara ketika menengok pintu seberang bertuliskan "Toilet Pria", ruangan itu kosong tak berpenghuni.
Ketika coba kami ketuk, tak ada jawaban, hanya balasan ketukan yang tak jelas artinya. Mungkin jika ruangan itu digunakan untuk buang air kecil, bahkan buang air besar pun, kami masih bisa memaklumi. Tapi ketika yang terdengar adalah suara pria berdehem yang sedang asyik mandi bertepatan dengan waktu sholat tiba, lagi-lagi dan untuk kesekian kalinya kami harus memahfumi.
Mudah saja bagi kami untuk membelokkan kaki untuk menuju pintu "Toilet Pria" sebagai gantinya. Sayangnya batin ini terus menghalangi dan berkata, "Kamu wanita! Ruangan itu bukan untukmu!". Alhasil keputusan sebagai wujud "toleransi" pun diambil. Satu wanita pertama mengambil wudhu dari tempat wudhu umum, sambil terus memastikan tak ada pria yg melihat ketika ia membuka aurat. Satu wanita kedua memilih naik ke atas untuk mengambil wudhu dari "Toilet Wanita" lantai 2.
Inilah wujud pengertian, tenggang rasa, juga tepo sliro dari kami atas penggunaan sebuah ruangan bertuliskan "Toilet Wanita".

Sebuah tulisan yang akhirnya menjadi perbincangan hangat (memicu ketersinggungan) di salah satu grup yang saya miliki. Tulisan yang (mungkin) telah menyakiti beberapa orang teman yang sering menggunakan "Toilet Wanita" di tempat kami. Ditambah lagi fakta, ternyata "Toilet Pria" di seberang, memang sudah lama tidak digunakan karena rusak.

Hhhmmm.. Maafkan saya teman-teman..

Benar, tulisan itu saya buat sebagai bentuk protes atas kebiasaan buruk seorang teman yang gagal paham atas kondisi lingkungan sekitar, "Mbok ya, kalau mandi itu sebelum maghrib tiba, atau sekalian setelah maghrib!". Kalimat itu sebenarnya yang mau saya sampaikan, sayangnya tak sanggup keluar dari mulut ini.

Benar, tulisan itu dibuat dalam kondisi emosi tidak stabil (baca : kesal) akan kebiasaan buruknya, hingga menggiring tangan ini bergegas menekan tombol enter setelah selesai menulis. Dan dampaknya, (sepertinya) saya telah menyakiti beberapa teman di grup. Astagfirullah hal adzim. Sekali lagi maafkan saya.

Sebuah tulisan yang awalnya diniatkan sebagai renungan pribadi (mungkin juga bagi teman yang lain), agar lebih bijak ketika menggunakan toilet (terlebih ketika telah memasuki waktu sholat). Ada kepentingan banyak orang disana. "Mbok ya ngertiin dong, ada yang butuh segera berwudhu nih, mau ikutan jamaah lho!". Sayangnya pesan itu agaknya tak sampai di hati para sahabat. Yang tampak hanyalah kumpulan kata emosional dan penuh larangan. Astagfirullah hal adzim.

Agaknya benar sekali tips menulis dari seorang teman, "Jangan terburu-buru menekan tombol enter ketika selesai menulis! Endapkan dulu tulisanmu!".

Seperti katanya lagi, mengendapkan tulisan membawa banyak manfaat : menemukan sudut pandang pembaca, mengoreksi kalimat yang tidak pas, typo, termasuk meredam emosi yang terbawa pada saat menulis. Ah, langkah ini yang terlewat olehku.

Semoga kelak di lain waktu, saya bisa lebih mampu memilah dan memilih kata, serta meredam emosi ketika hendak mengungkap sesuatu lewat tulisan.

Semangat bebenah! :)


#ODOPfor99days #Day94

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...