Kenapa ya di setiap perjumpaan awal grup, kelas, atau kursus tentang menulis, selalu saja ada pertanyaan awal yang sama, "Kenapa Menulis?".
Hhhmmm.. pertanyaan yang (menurut saya) bermaksud menelisik hati, pikiran, dan niat para pembuat deretan kata tersebut. Mungkin lebih tepatnya untuk mengecek apakah para penulis itu telah berada di track yang benar atau tidak? Well, sepertinya memang demikian adanya.
Ketika perbincangan alasan "Kenapa Menulis?" di-floor-kan pada para peserta, tanggapan yang muncul jadi beragam. Seperti sharing di Kelas Menulis Online (KMO) Batch #6 yang beberapa waktu lalu saya ikuti. Ada yang niat nulisnya untuk bikin buku, atau malah ingin jadi penulis best seller. Ada lagi yang niatnya untuk berbagi, mulai dari berbagi pengalaman, kisah, manfaat, bahkan hikmah sebuah kejadian.
Ketika perbincangan alasan "Kenapa Menulis?" di-floor-kan pada para peserta, tanggapan yang muncul jadi beragam. Seperti sharing di Kelas Menulis Online (KMO) Batch #6 yang beberapa waktu lalu saya ikuti. Ada yang niat nulisnya untuk bikin buku, atau malah ingin jadi penulis best seller. Ada lagi yang niatnya untuk berbagi, mulai dari berbagi pengalaman, kisah, manfaat, bahkan hikmah sebuah kejadian.
Hhhmmm... kalau buka lagi hasil sharing Mas Tendi Murti, menurut beliau alasan "kenapa menulis" jadi seperti ini :
- Menulis sedang membagi ilmu dengan orang lain.
- Sedang meninggalkan jejak untuk orang yang kita cintai.
- Menulis menjadikan hidup lebih semangat.
- Menulis itu menghimpun pahala.
- Membuat lebih percaya diri.
- Menulis dapat menyembuhkan dan menghambat penyakit.
- Menuangkan ide yang unik.
- Memperbaiki keadaan.
- Menulis berarti sedang belajar.
- Membuat kita lebih kreatif.
- Sedang menuangkan impian.
Ada yang alasan menulisnya berbeda dengan list diatas? Nanti bisa saya tambahkan lagi di daftarnya, hehehe. *peace
Kalau kemudian pertanyaan itu balik lagi ke saya, "Kenapa (saya) Menulis?", dijamin, semisal kita berhadapan nih, Anda pasti melihat saya cuma meringis dan garuk-garuk kepala. Alias, setengah bingung mau jawab apa *nah lho* Hehehe.
Jujur saja, menulis adalah aktivitas yang baru saya akrabi beberapa bulan ini. Awalnya memang karena belajar blogging. Mau nggak mau, suka nggak suka, blognya harus diisi dengan tulisan kan? Akhirnya mulai deh kegiatan menulisnya. Satu per satu tulisan berhasil dibuat. Nggak mudah ya ternyata, hehehe. Mmm.. kalau dicek lagi nih isi blog saya, ternyata masih gado-gado alias tanpa niche blog, juga (sering) acak adut tulisannya tanpa EYD. *sekarang juga iya sih*
Rata-rata isinya berupa kegiatan saya dan anak-anak di rumah, beberapa resume kulwap dan bacaan, juga curhatan terselubung, hehehe. Kalau dicari benang merahnya, sebenarnya semua tulisan itu dibuat dalam rangka belajar.
Belajar apa? Belajar jadi wanita yang baik untuk diri sendiri dan lingkungan melalui tulisan. Belajar jadi istri sekaligus partner yang baik buat Pak Dirut (baca : suami) melalui tulisan. Dan juga, belajar jadi ibu terbaik bagi kedua putra sholeh kami melalui tulisan . "Learn to write, write to learn", begitulah kira-kira maksudnya. *Udah kelihatan kan alasannya. Mirip dengan alasan nomor 9 list di atas ya?*
Ketika kemudian di kelas menulis itu kami diminta membuat sebuah ikrar peristiwa (sebagai tugas pertama dan wajib di upload di facebook), yang kurang lebih isinya adalah "komitmen untuk membuat minimal satu buku dan menjadikannya best seller atau lebih dari itu", (hohoho) rasanya saya bakal OFF TRACK dari tujuan menulis saya.
Baiklah.. Hands up! Kibarkan bendera putih! Alias saya belum sanggup berada di kelas ini. Maafkan saya teman-teman. :(
Terus maksudnya berhenti gitu? Hehehe.. Sayangnya, (Insya Allah) saya masih akan terus menulis. Lebih tepatnya, akan terus memintal kata juga menguntai makna dari tiap hasil pembelajaran dari para mentor. Mempraktekan langsung setiap ilmu yang saya peroleh pada diri sendiri juga keluarga kami.
Sebuah inspirasi sekaligus "alarm" yang terus menjadi pegangan ketika menulis hingga hari ini adalah tulisan Ust. Abu Yahya Badrussalam yang saya peroleh dari Mbak Farda berikut ini :
"Tulisanku adalah untukku, yang kelak akan ditanya apakah diamalkan atau tidak..?". Inilah track menulis saya yang sebenarnya (saat ini).
So, buku best seller??? I think, not now. :)
Belajar apa? Belajar jadi wanita yang baik untuk diri sendiri dan lingkungan melalui tulisan. Belajar jadi istri sekaligus partner yang baik buat Pak Dirut (baca : suami) melalui tulisan. Dan juga, belajar jadi ibu terbaik bagi kedua putra sholeh kami melalui tulisan . "Learn to write, write to learn", begitulah kira-kira maksudnya. *Udah kelihatan kan alasannya. Mirip dengan alasan nomor 9 list di atas ya?*
Ketika kemudian di kelas menulis itu kami diminta membuat sebuah ikrar peristiwa (sebagai tugas pertama dan wajib di upload di facebook), yang kurang lebih isinya adalah "komitmen untuk membuat minimal satu buku dan menjadikannya best seller atau lebih dari itu", (hohoho) rasanya saya bakal OFF TRACK dari tujuan menulis saya.
Baiklah.. Hands up! Kibarkan bendera putih! Alias saya belum sanggup berada di kelas ini. Maafkan saya teman-teman. :(
Terus maksudnya berhenti gitu? Hehehe.. Sayangnya, (Insya Allah) saya masih akan terus menulis. Lebih tepatnya, akan terus memintal kata juga menguntai makna dari tiap hasil pembelajaran dari para mentor. Mempraktekan langsung setiap ilmu yang saya peroleh pada diri sendiri juga keluarga kami.
Sebuah inspirasi sekaligus "alarm" yang terus menjadi pegangan ketika menulis hingga hari ini adalah tulisan Ust. Abu Yahya Badrussalam yang saya peroleh dari Mbak Farda berikut ini :
![]() |
"Tulisanku adalah untukku, yang kelak akan ditanya apakah diamalkan atau tidak..?". Inilah track menulis saya yang sebenarnya (saat ini).
So, buku best seller??? I think, not now. :)
#ntms
#meluruskanniat
#ibupembelajar
#ODOPfor99days
#meluruskanniat
#ibupembelajar
#ODOPfor99days

Tidak ada komentar:
Posting Komentar