Ketika Aku Menikah
Aku tahu, sejak hari pertama ijab qabul itu ditunaikan, maka status kepemilikanku sudah berubah menjadi hak milik suamiku. Aku bukan lagi milik orang tuaku. Ridho Allah SWT adalah ridho suamiku sepanjang hidupku mendampinginya. Maka tak pelak, semua usaha, aktivitas, juga kegiatanku harus berujung pada restunya. Tak ada keinginan besar, kecuali suamiku melapangkan setiap jalanku menuju surgaNya kelak.
Ketika Aku Menikah
Aku tahu, sejak hari pertama itu aku bukanlah satu-satunya cinta di hatinya. Aku harus menerima takdirku sebagai wanita kedua. Iya, wanita kedua setelah ibunya. Aku paham jika jalan surgaNya berada pada telapak kaki ibunya. Maka tak pelak, aku harus segera memulai misi pertamaku, "birru walidain", melapangkan semua jalan suamiku menuju surgaNya melalui ibunda tercinta.
Apakah aku berhasil? Entahlah. Rasanya masih harus tertatih-tatih menyelesaikan misi ini. Sebagai wanita kedua, seringkali rasa cemburu hadir menyertai perjalanan. Kalau sudah begitu tak ada cara lain kecuali berusaha keras mengolah rasa, hati, dan pikiran. Fokus menegaskan diri menyelesaikan misi ini.
Ah, terkadang cara ini juga tidak selalu berhasil. Langkahku kembali tertatih-tatih. Kalau sudah begitu, rasanya tak ada solusi terbaik selain mengadu padaNya, bukan mengadu pada sesama. Bukankah Allah SWT sebaik-baik tempat mengadu dan memohon pertolongan? Dia-lah satu-satunya jalur yang tak pernah sibuk, selalu dijawab, tidak pernah ditutup, dan tidak pernah mengecewakan.
Ketika Aku Menikah
Aku tahu, kantor utamaku adalah rumah. Tempat tinggalku bersama suami juga anak-anak kami. Satu-satunya tempat istirahat ternyaman yang harus kusiapkan sepenuh hati selepas beliau pulang mencari nafkah untuk kami. Maka tak pelak, misiku adalah membuat rumah kami menjadi Baiti Jannati, surga kami di dunia ini. Menjadikan rumah ini tempat istimewa menyusun visi, juga misi untuk mencapai impian terbesar kami, "berkumpul bersama di surga firdausNya dengan gelar cumlaude dariNya".
Apakah aku berhasil? Ah, rasanya masih jauh sekali. Buktinya saat ini aku masih menduakan kantor utamaku. Walaupun untuk beraktivitas di kantor kedua, aku juga telah memegang restu darinya. Maka tak pelak, misiku saat ini adalah menjadi double gardan. Membagi tubuh, fokus, pikiran, dan konsentrasi pada kedua kantor ini. Jelas bukan pekerjaan mudah untukku. Seringkali aku harus siap menerima konsekuensi atas pilihan prioritasku saat itu. Tak apalah, itu resiko sebuah pilihan. Yang terpenting, semua tugas dan tanggung jawabku di kantor utamaku (rumah) selesai lebih dahulu.
Ada kelegaan besar sebelum berangkat kerja, telah melihat rumah bersih, dan suami serta anak-anak telah rapi.
Ada kelegaan besar sebelum berangkat kerja, telah melihat soto ayam, oseng-oseng kacang panjang tempe dan dadar telur telah tersaji untuk keluargaku hari ini.
Alhamdullillah, Ya Allah Ya Rabb.
Terima kasih untuk semua berkahMu hari ini.
#jurnalsyukur
#ibupembelajar
#ODOPfor99days #Day73
Tidak ada komentar:
Posting Komentar