Hari ini giliran saya untuk sharing di grup "Home Based Education". Jujur saja, saya belum bisa menerapkan ilmu Home Based Education (HBE) secara total di rumah. Tapi berusaha mengambil ilmunya sedikit demi sedikit. Lantas coba diterapkan dalam keluarga, kemudian dievaluasi sebagai langkah perbaikan dan penguatan Agrapana Home Team.
Semoga pengalaman kali ini masih tetap berhubungan dengan Home Based Education ya. :)
Bismillahirrahmanirrahim.
Sharing is caring.
Sharing is caring.
******
"Ma, aku nanti mau ke Taman Reptil itu lho ya! Kan waktu itu nggak jadi tho!", pinta Alvin.
Sebenarnya agak "aras-arasen" juga balik ke tempat yang dimaksud Alvin. Pengennya sih berkunjung ke tempat lain. Toh juga sebelumnya kami pernah kesana. Sayangnya, permintaan Alvin itu terus memenuhi benak saya.
Saat itu jadi ingat kalimat Teh Euis dalam paparan Home Based Education Batch #1, "Children driven education". Biarkan anak-anak belajar apa yang benar-benar ingin mereka pelajari atau ingin mereka ketahui! Sisi angel saya berkata, "Let them lead, Winny!". Kalimat ini yang akhirnya memupus ego saya untuk membawa keluarga ke tempat wisata lain sesuai maksud hati ini.
Ya.. jauh-jauh hari, kami sudah mem-plot long weekend awal bulan Mei ini untuk pulang ke kampung halaman. Kota Surakarta, tapi saya lebih suka menyebutnya Solo. Tiga tempat edu fun trip, coba saya tawarkan ke Pak Dirut (baca : suami) dan anak-anak sebelumnya : Agrowisata Sondokoro eks pabrik gula (ini nih maunya saya), Peternakan Sapi di dekat kampus UNS Solo, dan Taman Balekambang (hutan kota)
Ternyata Taman Balekambang, jadi pilihan utama anak-anak, mengalahkan dua tempat eduwisata lainnya. Dan Pak Dirut juga sangat setuju kami berkunjung ke tempat ini. (Hhhmmm..kalau yang ini mah, saya sudah mencium gelagat aji mumpung nih, hehehe).
Sebenarnya, sudah dua kali kami berkunjung ke Taman Balekambang. Pertama kali sekitar 3 tahun lalu, tempatnya belum semarak seperti sekarang ini. Kunjungan kedua, karena keterbatasan waktu, anak-anak belum sempat masuk ke Taman Reptil Balekambang. Termasuk Pak Dirut, beliau belum berhasil mengangkat ikan kategori monster dari Kolam Air Partini. (Nah, sekarang paham kan, kenapa Alvin dan ayahnya kekeuh minta balik lagi kesini, hehehe).
Berbekal papan "Jelajah Alam", spidol, kaca pembesar, tas memancing, juga ransel di punggung, kami memulai "nature exploration" waktu itu.
Alhamdulillah, beberapa pembelajaran berharga kami peroleh dari edu fun trip kali ini.
Mengenal alam lebih dekat.
Luasnya Hutan Partinah (bagian kedua Taman Balekambang) menjadi ruang eksplorasi anak-anak. Mereka belajar bersama alam untuk mengenal berbagai jenis pohon, warna daun, tinggi rendah pohon, menghitung banyak sedikit daun, bahkan sampai mengenal bentuk dedaunan (daun menyirip, daun berombak, daun meruncing, juga daun kering). Sementara daun menjari, sepertinya sedang bersembunyi dari kami, alias nggak ketemu. Mungkin juga karena namanya hutan ya, jadi bunga-bunga cantik nihil ditemukan disini.
Bertemu dan berinteraksi dengan binatang.
Di Taman Balekambang, anak-anak bisa melihat dari dekat beberapa binatang seperti kera, angsa, kucing, burung kalkun, juga memberi makan dan mengelus-elus rusa. Hewan-hewan itu memang dibiarkan bebas di taman.
Keenan (si bungsu) merasakan sensasinya berkejaran (eh, dikejar) dengan angsa. Lari terbirit-birit dengan wajah ketakutan, tapi setelah itu justru ingin terus diulang, hahaha. Alvin dan Keenan pun bahkan enggan berhenti, ketika basah-basahan menangkap ikan dengan tangan di Kolam Keceh.
Di Taman Reptil, mereka bertemu dengan berbagai jenis hewan reptil seperti berbagai jenis ular, dan kadal, termasuk iguana. Binatang yang sebelumnya hanya diihat melalui flashcard, kini mereka lihat secara nyata. Dan ternyata, walaupun namanya Taman Reptil, kami juga bisa menemukan kura-kura, ayam, burung kakaktua, burung kasuari, termasuk Batu Asmara (pecahan batu meteor yang dulu pernah jatuh di kota Solo).
Belajar sejarah Taman Balekambang (Taman Tanda Cinta Orang Tua)
Di kunjungan ketiga kali ini, kami justru baru belajar sejarah Taman Balekambang. Ternyata taman ini dibuat KGPAA Mangkunegara VII sebagai tanda cinta untuk kedua putrinya, yaitu GRA. Partini Husein Djayadiningrat dan GRA. Partinah Sukanta.
Kedua nama putri itulah yang kemudian disematkan dalam dua bagian Taman Balekambang. Yang pertama adalah Partini Tuin (Taman Air Partini) dan yang kedua adalah Partinah Bosch (Hutan Partinah)
Melihat luas dan indahnya hutan kota Solo ini, saya bisa membayangkan betapa sayangnya KGPAA Mangkunegara VII pada kedua putrinya.
Mungkin rasa sayang pada anak-anak ini juga yang mampu mengalahkan lelah fisik karena mendampingi Alvin dan Keenan mengelilingi taman.
Alvin dan pengamatannya
Satu hal yg baru saya ketahui lagi dari pengalaman ini, ternyata Alvin cukup jeli "mengamati" sekitar. Sebuah kurungan yang tadinya saya lewati begitu saja, ternyata berhasil membuat saya memundurkan langkah ketika Alvin bilang, "Ma, ayam itu lho kakinya empat". Dahi saya mengernyit mendengar kalimatnya. Rasa penasaran membawa saya melihat tubuh ayam lebih detil. Subhanallah..benar sekali, ayam dalam kurungan yang saya lewati itu memang berkaki empat. Kedua kaki lain berada di perut bagian bawah, tersembunyi di balik bulu-bulunya. Ya Allah Ya Khalik, Engkau benar-benar Maha Pencipta.
Kemampuan Alvin mengamati kembali terlihat ketika tahu ada gambar semut dan laba-laba di papan "Jelajah Alam". Berbekal kaca pembesar (lup), dia terus mencari semut melalui lubang-lubang kecil. Dia juga memeriksa dan membolak-balik daun guna mencari laba-laba. Saya yang tadinya berpikir mustahil mencari dua hewan itu di taman seluas 9,8 hektar ini, akhirnya harus mengakui kehebatannya. "Ketemu, ma!". Wajahnya sumringah ketika akhirnya bisa memberi tanda centang pada lingkaran semut dan laba-laba di papan "Jelajah Alamnya". He did it!. Alhamdulillah.
Sejenak kemudian berpikir, Alvin dan kemampuan "mengamati" ini, apakah kelak akan membawanya pada kecerdasan natural? Entahlah, rasanya terlalu dini untuk mengambil kesimpulan. Just let them lead!
Belajar tentang pendidikan yang menumbuhkan
Rasa penasaran Alvin balik lagi ke Taman Reptil Balekambang menyadarkan kami pada satu hal, mendidik bukanlah memberi tekanan, apalagi paksaan, atau bahkan menjejalkan segala informasi dari luar. Membiarkan anak mempelajari segala hal yang ingin mereka ketahui, sejatinya justru memfasilitasi keistimewaan anak itu sendiri.
Di saat inilah kami justru (sedang) belajar tentang pendidikan yang menumbuhkan.
Rasa lelah berjalan, capek berlari, bahkan terengah-engah loncat sana sini terbayar sudah ketika melihat anak-anak tertawa riang, ditambah teriakan "strike" dipadu senyum merekah terus berulang dari Pak Dirut di sisi Taman Air Partini. Ceesss..adem.. Alhamdulillah.. Rasanya pengalaman ini wajib diulang. ;)
#edufuntrip
#HomeBasedEducation
#ibupembelajar
#HomeBasedEducation
#ibupembelajar

Tidak ada komentar:
Posting Komentar