11 April 2016

Evaluasi Kedua Putraku


"Mama itu kan jahat ya!", kata Keenan dengan spontan.

Deg. Aku terkejut mendengar kalimatnya. Kalimat spontan yang berhasil menampar hatiku siang itu. Baru kali ini kudengar kalimat perih untukku semenjak kelahirannya 3 tahun yang lalu.

"Hahaha.. Emang mama jahat ya?", tanyaku kemudian sambil berusaha menghibur diri

"Iya. Mamanya Didit itu lho baik!", katanya lagi. 

Deg. Kali ini putra bungsuku membandingkanku dengan ibu lain. Tampaknya ada kesalahan tak kasat mata yang selama ini kulakukan. Sejenak kemudian menyusup rasa cemburu dalam hati. Rasa tak ingin dibandingkan dengan orang lain.

"Keenan suka mama yang baik atau mama yang jahat?", tanyaku penasaran. 

"Mama baik. Ndak teriak-teriak!", jawaban lugas meluncur dari bibirnya. 

Hhhmmm.. Teriak-teriak, ini dia penyebabnya. Selama ini aku merasa semua yang kulakukan pada kedua putraku sudah benar, juga sesuai tuntutan. Olala, kali ini kinerjaku sebagai ibu dievaluasi oleh putra bungsuku sendiri. Ternyata selama ini aku lebih banyak meninggikan oktaf suaraku ketika bersama mereka. Apalagi ketika mereka menolak mengerjakan apa yang kuminta. Ah, pasti bertambah naik satu tingkat lagi oktafnya. Astagfirullah hal adzim. 

Tak berhenti pada Keenan, rasa penasaran mulai menggelayutiku ketika memandang Alvin, putra sulungku. Kira-kira kakak bakal bilang apa ya? Kalau kutanya serius pasti nggak bakal dijawab. Hhhmmm.. nanti sajalah. 

Malam itu selesai membaca dongeng pengenalan asma Allah "Al-Adl" tentang penguin, aku coba mengorek informasi dari Alvin. 

"Kak, kita main tebak-tebakan yuk? Mama tanya, kakak yang jawab! Harus cepet ya jawabnya! Oke?", kataku padanya
"Oke, ma!", jawabnya singkat.
Aku menarik napas panjang. Berusaha menyiapkan diri mendengar jawabnya. 

"Saya paling tidak suka kalau mama.....?", tanyaku
"Marah", jawabnya

Plak! Tamparan pertama untukku.

"Saya paling suka kalau mama.....?", tanyaku lagi.
"Baik", jawabnya singkat.

Aku tersenyum mendengarnya. Beberapa pertanyaan berikutnya berupa pertanyaan standar yang aku pun sudah tahu jawabnya. 

"Oke berikutnya.. saya paling, paling, paling, tidak suka kalau mama.....?", tanyaku kemudian.
"Marah, marah, marah!", jawabnya tegas.

Plak! Plak! Plak! Tiga tamparan bertubi-tubi untukku. Kuhentikan pertanyaanku saat itu. Rasanya aku belum sanggup mendengar hasil evaluasi berikutnya.

Inilah hasil evaluasi sementara Alvin atas kinerjaku sebagai ibu. Ketika aku berusaha keras menambah ilmu parenting sana sini, ternyata aplikasi di rumah membuktikan sebaliknya. Astagfirullah hal adzim. Maafin mama ya kakak! Maafin mama ya adik! 

"Teriak-teriak dan marah", jadi bahan muhasabahku kali ini. Menyadari kekurangan diri, memompa semangat untuk terus menjadi ibu pembelajar. Bertekad mengatur oktaf suara agar satu tingkat lebih rendah dari suara suami juga anak-anak dalam kondisi apapun. Melatih diri untuk berbicara lebih banyak menggunakan suara perut daripada suara kerongkongan. Mendahulukan logika daripada emosi. Membuka kembali tuntunan Nabi ketika sedang marah, mulai dari mengubah posisi hingga mengambil air wudhu. Mengingat kembali catatan etika komunikasi hasil webinar juga pengajian mingguan. Menegaskan diri that I have to be a mother with qaulan layyina. 

Evaluasi belum berakhir. Masih akan ada evaluasi lanjutan dari anak-anak, termasuk evaluasi dari suami. Mempersiapkan diri menerima evaluasi Pak Dirut atas kinerjaku sebagai istri, juga pendamping hidupnya. Semoga Allah SWT mempermudah usahaku kali ini. Amin ya rabbal alamin.


#muhasabah
#ibupembelajar
#ODOPfor99days #Day 72

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...