Cerita ini sudah lama pengen ditulis disini. Sayangnya ketumpuk sama ide tulisan yang lain. Akhirnya, lewat terus deh. Nah, semalam pas lihat file kolase foto, jadi ingat lagi sama ide menulis cerita ini.
Kalau baca judul postingan diatas, pasti pada bingung. Memang hari gini masih ada telur dinosaurus yang bisa menetas? Telur dinosaurus jenis apa? Seberapa besar bayi dino-nya? Nggak bahaya tuh pelihara dinosaurus? Hehehe, tenaaang! Yang diamati Alvin dan Keenan semacam replika telur dinosaurus. Boleh dibilang, replika versi mini. Ukurannya hanya sebesar telur puyuh. Lha terus bayi dino-nya? Ya, jelas lebih kecil dari ukuran telurnya. Kan ada di dalam telur, hehehe.
Awalnya baca webnya Mbak Mira Julia disini. Terus melihat Duta yang asyik dengan Busy Bag yang diperoleh dari El Hana. Akhirnya meluncur kesana. Wow, ternyata banyak sekali learning kit yang disediakan. Mupeng deh jadinya. Salut sama usahanya Mbak Ardyah Miranti yang mendedikasikan produknya untuk mengembangkan orisinalitas kegiatan belajar yang ramah bagi anak. Selain juga untuk mengeksplorasi sambil membangun keterampilan penting yang diperlukan untuk keberhasilan sekolah. Two thumbs up, mbak!
Nah, pas di rumah maya El Hana itulah bertemu sama si imut dino egg alias telur dinosaurus ini. Begitu lihat, langsung inget sama Alvin. Sejak kecil, putra sulungku ini suka sekali dengan dinosaurus. Mulai dari koleksi DVD Dinosaurus karya Steven Spielberg, eksiklopedia, buku cerita, buku aktivitas, stiker, pokoknya semua yang ada gambar Dinosaurus jadi koleksinya. Lha replika binatangnya? Yang itu sudah tidak perlu ditanya. Kalau para mainan berbentuk binatang itu diabsen, pasti daftar absen T-Rex dan teman-temannya ini paling panjang. Maklum saja, mereka ini jadi penghuni mayoritas di box animal anak-anak. Mulai dari yang ukuran kecil, sedang, bahkan besar, semua ada di playroom rumah kami. Karena sudah mupeng pas lihat, langsung deh order ke El Hana.
*****
"Kak, mama punya mainan baru!", kata saya ketika tiba di rumah.
"Mana, ma! Mana, ma!", jawabnya penasaran.
"Mama punya telur dinosaurus", kataku lagi.
Dia diam. Mencoba mencerna kalimatku barusan.
"Telur dino, ma?", tanyanya memastikan. Kulihat matanya berbinar-binar.
"Iya", sambil kuanggukkan kepalaku.
"Memang bisa menetas? Bisa jadi besar, ma?", tanyanya lagi
"Hhhmmm.. kalau itu kita cari tahu sama-sama ya!", jawabku.
Akhirnya paketan itu kubuka. Ada dua telur yang sedikit retak. Tak apalah. Kuambil mangkuk bening yang telah kuisi air. Alvin Keenan pun mulai memasukkan telur-telur itu ke dalamnya. Mereka mulai mengamati. Gelembung udara keluar satu per satu dari dalam telur. "Dino-nya bernapas, ma. Itu keluar gelembungnya!", kata Alvin. Akupun tersenyum. Sepertinya dia mulai berimajinasi.
Satu menit, dua menit, hingga lima menit berlalu, anak-anak masih excited mengamati. Namun yang keluar tetap gelembung-gelembung udara. Lima belas menit kemudian mereka mulai bosan. "Koq nggak menetas sih, ma!", tanya Alvin. "Hhhmmm.. perlu waktu kayaknya, kak", jawabku. Akhirnya kami membiarkan telur-telur itu. Sambil beberapa kali mengintip ke dalam wadah apakah telur dino-nya sudah menetas.
*****
"Kak, telur dino-nya sudah menetas!", kataku pada Alvin. Dia tidak menjawab. Namun mendengar kalimatku, dia bergegas menengok wadah tempat kami meletakkan telur-telur itu.
"Waaah.. menetas!", dia gembira. Dia ambil salah satu bayi dino itu. Dia bersihkan badannya dari cangkang telur. Dilakukan hal yang sama pada telur-telur lainnya. "Kecil ya, ma!", katanya. "Iya, kan masih bayi. Kalau ditaruh di air lebih lama, Insya Allah nanti tambah besar!", kataku menjelaskan. Dia pun kembali meletakkan telur-telur itu ke dalam wadah berisi air.
"Dik, dino-nya tambah besar lho!", kata Alvin pada Keenan beberapa waktu kemudian. Mereka berdua kembali mengamati. Akupun tersenyum. Telur-telur itu akhirnya membesar. Lebih besar dari ukuran awal ketika baru menetas. Memang, tidak akan membesar seperti dino yang kita lihat di filmnya Steven Spielberg. Namanya juga replika versi mini. Tapi anak-anak cukup puas dengan pembelajaran kali ini. "Ma, nanti beli lagi ya! Yang banyak!", pintanya kemudian. Glek! Nah lho!
*****
Science Learning atau pembelajaran tentang science. Science yang dulu saya kenal sebagai pelajaran menakutkan, sekarang bisa berubah menjadi pelajaran yang menyenangkan untuk anak-anak.
Melalui dino egg, Alvin dan Keenan belajar tentang science. Tanpa mereka sadari, mereka telah belajar keterampilan dasar pertama proses sains. Ya... mengamati. Tanpa mereka sadari pula, kali ini mereka belajar tentang pertumbuhan dan perkembangan binatang. Mereka akhirnya tahu telur itu bisa menetas. Setelah menetas, akan muncul bayi-bayi kecil. Mereka akhirnya juga melihat bayi-bayi kecil itu tumbuh dan berkembang menjadi lebih besar. Alhamdulillah. Semoga kalian senang dengan pembelajaran kali ini. Terima kasih, Mbak Ardy untuk dino egg-nya. :)
#ODOPfor99days #Day53
(707 kata)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar