Dari kejauhan terlihat seorang ibu berusia lanjut berjalan menuju arahku. Satu per satu kaki kanan dan kirinya melangkah. Langkahnya begitu pelan. Tangannya bertumpu pada walker berbentuk persegi panjang. Sepertinya penyakit stoke pernah menghampirinya. Sementara di hadapanku telah berkumpul puluhan ibu lainnya. Ya.. hari itu adalah peringatan tujuh hari meninggalnya ibu kami.
"Ibu, monggo pinarak!", kupersilahkan ibu itu duduk di sampingku. Ibu, silahkan duduk. Beliau menghampiri kursi itu dan mulai berusaha memposisikan tubuhnya untuk duduk. Gerak tubuhnya semakin pelan ketika itu. "Nek wis tuwo ngene iki tambah angel nak gawe obah", begitu katanya. Kalau sudah tua begini sudah makin susah nak buat bergerak. Aku pun tersenyum, sambil terus membantunya untuk duduk. "Pripun ibu, sampun sekeco?", tanyaku padanya. Bagaimana ibu, sudah nyaman? "Wis..wis nak. Kene lungguho kene!", katanya seraya memintaku duduk disampingnya. Sudah..sudah nak. Sini, duduklah disini. Pengajian para ibu pun dimulai. Senandung bacaan surat Yasin pun mulai terdengar.
*****
Gerimis mulai turun di menit terakhir ketika pengajian itu hendak ditutup. Alhamdulillah, pengajian hari ini lancar. Para ibu muslimah mulai bergerak untuk bersalaman. Setelah saling berpamitan, mereka pun pulang menuju rumah masing-masing. "Ibu, bawa payung ini aja!", kataku pada seorang ibu yang rumahnya cukup jauh jaraknya dari rumah kami. Nggak usah, mbak! Cuma gerimis!, katanya menjelaskan.
Sementara itu, kulihat ibu yang tadi duduk disampingku belum beranjak dari tempat duduknya. Setelah semua ibu lainnya pulang, beliau mulai beranjak. Tangannya kembali bertumpu pada walker besinya. Beliau mulai mengangkat tubuhnya hingga sampai pada posisi berdiri. Aku bergegas mengambil payung dan bersiap menemani beliau.
"Wis, gak usah nak. Aku gak gelem ngrepoti! Iki cuma udan banyu ae!", katanya padaku. Sudah, tidak usah nak. Saya tidak mau merepotkan! Ini cuma hujan air saja. "Mboten mbah, kulo mboten repot", jawabku padanya. Tidak mbah, saya tidak repot.
Jarak rumahnya cukup jauh dari rumah kami. Sepanjang perjalananku membersamainya, banyak sekali pertanyaan yang diajukan kepadaku. Ibuku sakit apa, berapa usianya, berapa saudaranya, berapa anaknya, aku anak keberapa, apa aku tinggal bersama orang tuaku. Semua pertanyaan itu kujawab untuk memupus rasa penasaran beliau.
Ketika perjalanan kami hampir sampai rumah beliau, kami berpapasan dengan saudara sekaligus tetangga sebelah rumah ibu itu. "Yu, aku duwe minyak goreng 2 liter. Isik utuh, durung tak gawe. Engkok tukuen yo! Duite ape tak gawe mbayar listrike masjid", ucap ibu itu pada saudaranya. "Kak, aku punya minyak dua liter. Masih utuh, belum dipakai. Nanti dibeli ya! Duitnya mau saya pakai buat bayar listriknya masjid. Deg! Aku terdiam. Darahku berdesir. "Ibu ini yang bayar listriknya masjid?", tanyaku dalam hati. Plak! Sebuah tamparan keras untukku.
Karena penasaran kutanyakan padanya. Beliau kemudian bercerita. Setiap bulan beliau berusaha menyisihkan uang sebesar dua puluh ribu. Diberikannya uang itu pada salah satu pengurus masjid seraya berpesan agar uang itu digunakan sebagai tambahan membayar listrik masjid. Beliau ingin agar uang yang diberikannya itu, kelak akan menjadi shodaqoh jariyah untuknya. Menjadi amalan yang tidak terputus sebagai bekal menghadap-Nya. Dan kebiasaan itu telah dilakukannya sejak beliau masih berusia dua puluhan. Beliau yang tidak berpenghasilan, terus berusaha keras menyiapkan bekal akhiratnya.
![]() |
| Sumber : |
Plak!
Agaknya aku perlu untuk terus menampar diriku. Hati kecilku kemudian memberondongku dengan berbagai pertanyaan setibanya di rumah.
Apa yang sudah kamu lakukan selama ini? Ibu itu sudah menyiapkan bekalnya ketika usia dua puluhan. Sekarang berapa usiamu? Sudah siapkah bekalmu? Sudah siapkah tabungan akhiratmu? Jangan-jangan selama ini kamu hanya sibuk menumpuk uangmu di tabungan dunia saja? Deposito, emas, dan entah apa lagi nama lainnya. Atau bahkan selama ini, kamu hanya menggunakan uangmu sebagai pemuas gaya hidup saja? Gadget, baju, sepatu, jam tangan bahkan kerudung semua mengikuti tren terbaru? Periksa lagi! Lebih banyak mana, tabungan duniamu atau tabungan akhiratmu?
Plak!
Sudahkah kau siapkan ilmu yang bermanfaat? Jangan-jangan selama ini ilmumu hanya kamu simpan untuk kepentingan dirimu saja? Kenapa? Tidak ingin mereka lebih pintar darimu? Takut tersaingi? Jadi sebaiknya disimpan sendiri? Tidakkah kau ingat jika sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi sesamanya. Coba lihat sekelilingmu! Tidakkah kau lihat ilmumu bisa bermanfaat bagi mereka! Ayo berikan.. dan terus berikan!
Plak!
Sudahkah kamu siapkan anak-anakmu? Apakah mereka sudah menjadi anak sholeh? Apakah selama ini mereka telah melaksanakan perintah-Nya? Atau hanya melaksanakan sholat dan ngaji karena perintahmu? Apakah kelak mereka akan terus mendoakanmu ketika kamu dan suamimu telah tiada? Atau mereka justru menjerumuskanmu ke dalam neraka? Coba pikirkan! Apakah selama ini kamu telah mendidik mereka dengan baik?
Astagfirullah hal adzim.. Sepertinya aku belum menyiapkan semua itu. Kulihat suamiku. Beliau membaca kegelisahanku. Kusampaikan semua padanya. Dia pun tersenyum. "Kita berusaha sama-sama ya!", katanya sambil memelukku.
*****
Di dalam sebuah rumah.
"Ibu, ini untuk pengganti minyak gorengnya. Minyaknya disimpan saja buat ibu. Terima kasih telah memberi pelajaran berharga untuk saya. Matur nuwun sanget, ibu", kataku seraya menyodorkan amplop berwarna putih.
#ODOPfor99days #Day54
(771 kata)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar