Sabtu, 27 Februari 2016
Kondisi ibu kami kembali memburuk. Selama lima hari beliau terus menahan rasa sakitnya. Bahkan antibiotik terbaik pun sudah diberikan, namun sepertinya tidak memberikan pengaruh. Sepsis, infeksi yang menyebar pada seluruh tubuhnya inilah yang akhirnya membuat beliau kembali dalam kondisi koma.
Ketika aku menjaganya kemarin, seorang perawat mulai memasang respirator untuk membantu pernapasannya. Beberapa kali perawat memanggil ibu di setiap jam jaganya, namun ibu tetap tidak memberikan respon. Hingga kemarin malam, alat monitor pun mulai dipasang untuk memantau kondisi beliau. Ya Rabb, mohon beri pertolongan untuk ibuku!
*****
”Mbak, nanti pulang kantor langsung ke rumah sakit ya!”, pesan Papa.
Deg! Seketika itu muncul rasa khawatir.
”Mama gimana, pa?”, tanyaku pada beliau.
”Masih sama kayak kemarin. Bantuin Papa ya!”, pinta Papa.
Kukirimkan pesan balasan mengiyakan permintaannya. Aku masih tercenung membaca pesan itu. Tumben. Nggak biasanya Papa minta tolong seperti itu. Segera saja kulayangkan pesan singkat ke adikku, minta tolong padanya untuk ke rumah sakit lebih dulu. Sementara aku harus menunggu jam kerjaku berakhir.
*****
Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit kuperoleh info jika ibu kami harus dipindahkan ke ICU Anestesi siang itu. Kusampaikan pesan itu Pak Dirut. Dia pun segera memacu kendaraan kami menuju rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, kulihat Papa dan adikku keluar kamar. Barang-barang bawaan kami selama berada di rumah sudah berada di teras tunggu. Beberapa saat kemudian kulihat ranjang ibu didorong keluar oleh beberapa orang perawat. Kami pun mengikuti para perawat menyusuri lorong rumah sakit.
Sampailah kami di sebuah ruangan berukuran 4 x 4 meter. Didalamnya telah berada dua keluaga pasien lain. Ruangan tunggu ini lebih sempit daripada ruang tunggu ECU dulu. Namun terasa sejuk karena pendingin ruangan yang menempel dinding. Ayah kami masih harus keluar masuk ruang ICU untuk menyelesaikan beberapa urusan administratif. Setiap kali melihat beliau masuk ke dalam ruang ICU, selalu saja ada rasa kuatir menyelimuti.
Ayahku kembali ke masuk ke dalam. Dokter ICU hendak bicara dengan beliau. Sesaat kemudian beliau keluar lagi memanggilku, ”Mbak!”. Beliau memintaku masuk ke dalam ruang ICU. Tanpa pikir panjang, aku mengikuti permintaan beliau.
Di dalam ruang ICU kulihat seorang perawat mulai melakukan pijat jantung. Astagfirullah hal adziim. Mamaaa!. Kuhampiri ibuku. Kulihat monitor disamping atasnya. Tanda-tanda kehidupan itu masih ada. ”Suster, saya bimbing ibu saya!”, kataku. ”Papa, minta tolong panggil adik-adik!”, pintaku pada ayahku. Kusibakkan selang-selang yang menggelantung. Kusingkirkan rambut yang menutupi telinga beliau. ”Mama, ini Lia. Ikutin Lia ya, ma! Ikutin Lia! Astagfirullah hal adzim. Astagfirullah hal adzim. Astagfirullah hal adzim. Asyhadu alla illaha illalah. Wa asyhadu anna Muhammadar Rasullullah. Laa illaha illalah. Muhammadar Rasulullah”, kuulang kalimat istighfar, syahadat, dan tahlil itu terus menerus. Dadaku semakin terasa sesak. Bulir-bulir air mataku mulai mengalir. Sesaat kemudian air mataku sudah tidak mampu lagi kubendung. Adik keduaku datang membersamaiku. Mulutku dan adikku tak henti-hentinya membimbing ibu. Sementara batinku terus memohon pertolongan-Nya. Ya Allah Ya Rabb, tolong ibuku. Hamba mohon dengan sangat, tolong ibuku!
Para perawat terus bergantian memijat jantung beliau. Sampai akhirnya mesin-mesin itu tidak lagi menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Angka-angka yang tadinya masih muncul, kini berganti menjadi tanda tanya. ”Dokter, tolong pakai kejut jantung! Jangan diam saja!”, teriakku. ”Maaf, mbak! Ibu sudah tidak memberikan respon. Ibu sudah meninggal dunia”, kata dokter ICU. "Ibu dirujuk kesini untuk mendapat bantuan pernapasan dari mesin-mesin ini. Tapi jantung beliau sepertinya sudah tidak kuat. Maafkan kami. Kami sudah mengupayakan yang terbaik", begitu katanya lagi. Astagfirullah hal adzim. Air mataku terus mengalir. Kutenangkan diriku dengan kalimat istighfar terus menerus. Ayah dan kedua adikku lambat laun menjauhi ranjang beliau. Kupandangi ibuku yang tertidur. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Segala yang berasal dari-Mu, akan kembali pada-Mu. Kukecup keningnya dalam-dalam. Mama, Allah sepertinya lebih sayang sama mama. Allah ingin mama bersama-Nya.
*****
”Mbak Lia, kuat mandiin mamanya? Tapi ndak boleh nangis!”, tanya seorang tetangga padaku. ”Insya Allah!”, kuberikan jawaban singkat. Aku dan adik-adikku akhirnya sepakat, kamilah yang akan memangku jenazah ibu sekaligus memandikannya. Inilah wujud penghormatan terakhir kami pada alharhumah. Memandikan beliau untuk terakhir kali. Sebagaimana beliau dahulu selalu memandikan kami ketika kami kecil. Tak ada air mata selama prosesi memandikan dan mensucikan beliau. Yang ada hanya sentuhan kasih sayang kami pada almarhumah.
Kami ingat sebelum almarhumah masuk ECU dulu, beliau sudah ”berpamitan” kepada kami. Maafin mama! Doain mama khusnul khotimah ya!, begitu kata almarhumah pada kami waktu itu. Saya sudah siap, Ya Allah!, kata almarhumah lagi. Kalimat itu membuat kami bergetar kala itu. Waktu itu kami hanya berusaha menenangkannya, termasuk menenangkan hati kami. Namun kondisi kesehatan mama yang naik turun, membuat kami harus siap mental setiap saat menghadapi segala ketetapan Allah SWT. Dan waktu itu pun kini telah tiba. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Selamat jalan, mama! Terima kasih untuk segala pengorbanan yang telah engkau berikan kepada kami.
![]() |
Ya Allah, hamba mohon ampunilah segala dosa ibu kami. Kasihanilah ibu kami. Muliakanlah tempatnya kembali. Lapangkanlah kuburnya. Lindungilah ibu kami dari siksa kubur dan siksa api neraka, Ya Rabb.Bersihkalah segala kesalahannya sebagaimana Engkau membersihkan pakaian putih dari kotoran. Gantilah rumahnya di dunia ini dengan rumah yang lebih baik di akhirat. Masukkanlah ibu kami ke dalam surga-Mu, Ya Allah Ya Rabb. Amin ya rabbal alamin.
#ODOPfor99days #Days43

Tidak ada komentar:
Posting Komentar