3 Maret 2016

Tempat Peristirahatan Terakhir


Minggu, 28 Februari 2016


Solo.. kampung halaman. Kota yang membawa sejuta kenangan. Tempatku lahir, tempatku bersekolah, juga tempatku mengasingkan diri dari hiruk pikuknya Kota Pahlawan. 

Di kota ini juga, ibu kami - guru terbaik, sahabat, teman diskusi, inpirator kami - dilahirkan dan dibesarkan. Disinilah almarhumah ibu menghabiskan masa mudanya sebelum menikah dengan ayah kami. Inilah kota yang dipilih almarhumah ibu untuk menjadi tempat peristirahatan terakhirnya. 


*****


Malam itu selesai memandikan, mensucikan, mensholatkan dan berpamitan pada para pelayat, kami bergegas menuju kota Solo. 

Ambulans yang membawa ibu melaju lebih dulu daripada kendaraan yang kami tumpangi. Satu tujuan, namun rute yang kami tempuh berbeda malam itu. Ambulans yang membawa jenazah ibu ditemani adik bungsuku, melesat menempuh jalur selatan. Sementara tiga mobil yang membawa keluarga, saudara, dan tetangga kami, melaju menempuh jalur utara. 

Tepat di sepertiga malam, ambulans dan kendaraan kami memasuki halaman rumah joglo peninggalan kakek di Solo. Tangisan keluarga besar ibu pecah ketika satu per satu dari kami memasuki pendopo. "Sing sabar yo, nduk!", kata salah satu kakak ibu sambil terus menangis. "Insya Allah, budhe", jawabku singkat. 

Beberapa dari saudara ibu kami bergegas mengambil wudhu dan mensholatkan jenazah almarhumah. Ini untuk kedua kalinya jenazah ibu disholatkan. Setelah itu bacaan ayat suci Al Quran silih berganti terdengar usai sholat jenazah dilaksanakan. Sementara itu, rasa kantuk mulai menyergap mata. Rasa lelah kembali melanda di sekujur badan ini. Aku pun terlelap.


*****


Tenda-tenda mulai terpasang di halaman rumah joglo. Satu per satu tamu datang menyalami kami. Keluarga, handai taulan, dan tetangga mulai memenuhi pendopo dan halaman rumah. Ucapan bela sungkawa, doa, dan kehadiran mereka menjadi penguat kami hari itu.

Sebuah upacara singkat menjadi awal prosesi pemakaman almarhumah. Agak berbeda dengan kebiasaan kami di Kota Pahlawan. Ada prosesi wejangan singkat dari para sesepuh desa dan sesepuh keluarga. Selain itu, kebiasaan para pelayat yang tidak beranjak dari tempat duduk mereka hingga jenazah diberangkatkan, bahkan ketika mereka datang pagi sekalipun. 

Tausiyah singkat dari Pakde, sesepuh keluarga, berhasil mengiris hati. Menampar kami untuk mengingat kembali tentang mati. Tak ada seorang tahu kapan kematian itu datang menjemput. Tak peduli apakah kita siap atau tidak. Tak peduli apakah kita sudah berbekal atau tidak. Ketika Izrail telah mendapat perintah untuk "menjemput sebuah nama", pasti akan segera dilaksanakan perintah-Nya. Tak peduli kita bersembunyi dimanapun juga.


*****


Jenazah ibu mulai diturunkan ke liang lahat. Kedua adik lelakiku telah siaga di dalamnya. Mereka berdua yang mengatur agar jenazah menempel ke dalam tanah. Dari tanah kembali ke tanah. 

Adzan dan iqomat dikumandangkan adik keduaku. Entah kekuatan apa yang ada pada dirinya saat itu, hingga sanggup melakukannya. Mataku terus berkaca-kaca. Berusaha kerasa kutahan agar bulirnya tidak jatuh ke tanah. Sementara ayahku, setelah memastikan posisi ibu telah benar, memilih untuk tidak berada di dekat liang lahat. Aku paham yang beliau rasakan. 

Liang lahat pun akhirnya dipenuhi gumpalan tanah dan taburan bunga. Tertutup sudah kesempatan kami untuk melihat ibu ataupun jenazahnya. Tak ada lagi kesempatan untuk memeluk, mencium, bercanda, bahkan malam malam sederhana. 

Hingga hari ini kami terus berusaha menghibur diri untuk melihat almarhumah ibu dengan kacamata lain. Mengingat ibu melalui labirin kenangan kami. Dan terus akan mengingatnya melalui doa-doa kami. Selamat jalan, mama! Semoga kelak Allah SWT menyatukan keluarga ini kembali dalam surga-Nya. Amin ya rabbal alamin. 

Sumber : wishabuddy.com



#ODOPfor99days #Day44

(530 kata)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...