Semenjak ibu kami sadar dari komanya, komunikasi di antara kami mengalir bak air yang ingin mencari tempat terendahnya. Beliau kami aktif sekali berbicara. Tak ada lagi suara serak dan lirih. Bahkan kami lagi tidak perlu mendekatkan telinga kami pada beliau. Suara beliau jelas, bahkan beliau lancar tanpa jeda. Seolah banyak sekali kisah yang ingin diceritakannya. Seolah banyak sekali pesan yang ingin disampaikan. Kami pun beberapa kali mengingatkan beliau untuk beristirahat sejenak. Namun beliau tetap ingin sekali berbicara.
Terkadang cerita yang beliau sampaikan bisa kami pahami. Namun beberapa kali kami harus mencerna maksud ceritanya. Tak apalah. Yang terpenting saat ini kami bahagia bisa melihat ibu kami kembali ceria.
”Disana itu nggak kayak disini, mbak!”. Nggak ada yang namanya gotong royong. Nggak ada yang namanya setia kawan. Semua orang mikir diri sendiri. Nggak ada yang nolong disana! Mama minta tolong bukain pintu aja, nggak dibukain!”, kata ibu. Deg! ”Disana mana, ma?”, tanya saya. ”Ya disana, mbak!”, kata ibu tanpa memberi penjelasan lebih lanjut.
Itu salah satu cerita ibu padaku waktu itu. Entah kenapa saat itu langsung muncul pikiran buruk atas maksud cerita itu. Mungkinkah waktu koma ibu sudah beralih ke dimensi lain? Tak ada penolong disana! Mungkin benar. Semua orang akan dimintai pertanggungjawaban ketika kembali padaNya. Apa saja yang sudah kita kerjakan di bumi ini. Apa saja ”bekal” yang sudah kita siapkan. Tidak ada penolong disana, kecuali amalan yang kita bawa.
Lantas, apa maksud mama dengan mama minta tolong bukakan pintu, tapi tidak ada yang membukakan? Astagfirullah hal adzim. Segera kutepis prasangka buruk yang muncul berikutnya. Kulihat beliau masih aktif berbicara. Menceritakan pertemuannya dengan beberapa orang disana. Namun cerita selanjutnya sudah tidak sanggup kucerna. Selama lima hari ibu dalam kondisi koma, jelas membuat kami tersadar betapa berharganya kehadiran beliau di tengah kami. Terus sehat nggih, ma! Perkenankanlah, Ya Allah. Perkenankanlah.
Malam itu kami benar-benar menikmati kebersamaan kami. Canda dan tawa menyelimuti kami. Mama akhirnya melihat cucu perempuan pertamanya. Walau hanya melalui video, kurasa cukup mengobati kerinduannya untuk bertemu saat itu.
Pertemuan Yuyut dan Mama juga menjadi ajang pelepas kerinduan. Kulihat mama terus menggenggam tangan Yuyut. Yuyut pun membalas menggenggam tangan mama dan terus mengusap keningnya. Yuyut bukanlah ibu kandungnya, namun ibu kandung Papa. Namun rasa sayang dan perhatian yang saat itu kulihat seolah mama adalah putri kandungnya. Tangan mereka terus bertaut, seolah tak ingin terlepas.
Sekembalinya dari rumah sakit, entah kenapa cerita mama waktu itu terus bergelayut di benakku. Tak ada penolong disana! Plak! Apa yang sudah kamu persiapkan hingga hari ini untuk bekalmu nanti! Seketika tersadar kalau diri ini belum mempunyai bekal apapun. Astagfirullah hal adzim.
![]() |
#ODOPfor99days #Day42

Tidak ada komentar:
Posting Komentar