"Mbak, bisa kesini? Ini mama manggil anak-anaknya!", ucap adikku di telepon.
Deg. Ucapan adikku berhasil membuatku bangun dari tempat dudukku. Dan kalimat selanjutnya berhasil membuat mataku berkaca-kaca, "Aku berangkat sekarang!", jawabku singkat.
Kubereskan semua peralatanku, berpamitan dengan rekan satu ruangan, kemudian segera mempercepat langkah menuju pinggir jalan.
"Taxiii!", teriakku. Bergegas duduk dan menyebutkan nama rumah sakit tempat mama dirawat. Melihat kondisiku yang gelisah, sang pengemudi segera memacu mobilnya.
*****
Dari kejauhan kulihat papa dan kedua adikku berada di luar ruangan. Ada apa ini? Kenapa semua di luar? Hatiku semakin tidak menentu. Bayangan yang tidak-tidak muncul di benakku. Alhamdulillah, ternyata ruangan kamar sedang dibersihkan, jadi semua diminta keluar.
Kulihat papaku, sepertinya beliau cukup tenang. Namun entah apa yang berkecamuk dalam hatinya. Terbayang tadi pagi betapa tergesa-gesanya beliau setelah ditelpon adik keduaku. Mama meminta papa kembali ke rumah sakit, mama ingin bicara.
Kulihat adik keduaku, nampak raut kesedihan dari mukanya. Dia kemudian menceritakan beberapa peristiwa sebelumnya. Aku berusaha menahan air mataku. Mencoba tegar dihadapannya. Sementara adik terakhirku terlihat gelisah, mondar-mandir tak menentu. Sepertinya saat ini kami semua merasakan kegelisahan yang sama.
Aku segera menuju ruang perawatan ibuku. Kulihat seorang perempuan tergolek lemah di pembaringan. Ketika melihatku, bibirnya mulai bergerak. Dengan sigap kudekatkan telingaku padanya. Diucapkannya beberapa kalimat yang membuat darahku berdesir. Seketika itu hatiku berkecamuk. Mataku mulai berkaca-kaca. Berusaha keras kutahan air mataku agar tidak jatuh dihadapannya. "Mama istirahat nggih!", kataku seraya mengusap keningnya. Kubelai dan kurapikan rambutnya yang ikal. Terbayang bagaimana dulu beliau suka merapikan dan menguncir rambutku ketika aku masih kecil.
Ya Allah Ya Rabb, berilah kesembuhan untuk ibuku. Angkatlah semua penyakitnya. Bukakanlah semua jalan keluar untuk upaya penyembuhannya. Amin ya rabbal alamin.
*****
![]() |
"Saya mau segala yang terbaik untuk istri saya! Lakukan semua upaya!", ucap papaku ke para medis.
Kondisi mama yang semakin hari semakin menurun, tentu saja membuat kami khawatir. Kami terus mengupayakan berbagai langkah guna penyembuhannya. Sekecil apapun kemungkinannya, kami akan terus mengupayakan yang terbaik untuk ibu kami.
Papa terlihat begitu tegar menghadapi semua ini. Kedua adikku juga begitu sabar mendampingi kedua orang tuaku. Akupun harus demikian! Kami terus berusaha menguatkan satu sama lain.
Ya Allah, kami sadar kami tidak punya kuasa atas apapun yang terjadi pada diri kami. Bahkan sehelai daun yang jatuh dari pohon pun juga atas kehendak-Mu. Kami sadar itu, Ya Rabb
Kami hanya ingin terus berikhtiar untuk ibu kami. Perkenankan segala upaya kami, Ya Allah. Perkenankan ikhtiar kami. Amin ya rabbal alamin.
#ODOPfor99days #Day32

Tidak ada komentar:
Posting Komentar