Mama harus cuci darah! Kreatinin-nya naik. Infeksinya sudah menyebar.
Deg. Sebenarnya saya sudah bisa menduga langkah ini. Melihat kondisi mama yang terus menurun, jelas ada yang sangat mengganggu dalam tubuhnya. Sayangnya saya tidak paham soal medis.
Cuci darah.. sebuah proses penuh tantangan untuk ibu kami. Dokter ahli ginjal yang menangani ibu sudah menjelaskan dengan gamblang. Data medis sudah menunjukkan jika infeksi sudah menyebar dan harus segera diambil tindakan. Mengganti darah yang terinfeksi dengan darah yang lebih segar. Itu solusinya. Namun, kondisi fisik ibu kami saat ini jelas menjadi pertimbangan tersendiri dari Tim Haemodialisa.
Ayah kami jelas tak ingin berada di tengah perdebatan antara Dokter Ahli Ginjal dan Tim Haemodialisa. "Dok, yang saya tahu, saya harus berusaha mencoba segala kemungkinan untuk kesembuhan istri saya. Bahkan sekecil apapun kemungkinan itu. Siapa yang bisa menjamin hidup dan mati seseorang? Apakah Tim Haemodialisa? Saya paham kenapa mereka khawatir", kata ayah kami. "Dok, yang perlu dokter tahu, istri saya sudah siap, kami pun sudah siap! Semua dokumen tindakan HD juga sudah saya tanda tangani. Lakukan yang terbaik untuk istri saya!", lanjut ayah kami.
Ayah kami, saat ini benar-benar menunjukkan wujud cintanya. Cinta seorang suami kepada sang istri. Melakukan segala yang terbaik untuknya. Tak terlihat sedikitpun kecemasan dari raut wajahnya. Yang terlihat hanya kegigihannya untuk terus berusaha.
Tindakan haemodialisa pun berjalan. Namun harus terhenti karena faktor pernapasan ibu kami yang tidak memenuhi. Ayah kami tetap tegar berdiri. "Kita cuma wajib terus berusaha, hasilnya itu hak prerogatif Allah!". Kalimat ayah kami ini menyejukkan sekaligus makin menguatkan hati kami. Sebuah wujud ketawakalan yang akhirnya menjadi ujungnya.
Hari ini ayah kami memperlihatkan keteladannya kepada kami. Tanpa perlu banyak kata, beliau justru memperlihatkan melalui tindakan. Ketika doa terus menerus kami panjatkan kepada-Nya. Ketika ikhtiar telah kami upayakan tanpa kenal lelah. Maka tawakal menjadi ujung penguat hati kami. Kami sudah memahaminya, Papa. Terima kasih atas keteladanan yang engkau berikan kepada kami hari ini.
![]() |
#ODOPfor99days #Day33

Tidak ada komentar:
Posting Komentar