23 Februari 2016

Ketika Keajaiban Itu Tiba


Minggu, 21 Februari 2016

Selama dua hari, kondisi ibu kami menunjukkan perkembangan berarti. Terus terang kami bahagia mengetahuinya. Terlebih untuk ayah kami. Beliau yang selama ini gigih mengupayakan segala hal untuk ibu kami. Harapan terbesarnya adalah kesembuhan ibu kami. 

Pagi ini beliau tampak lebih bersemangat. Perkembangan kondisi ibu kami semalam memberi harapan baru untuknya. Ketika hendak melangkah menuju ruang ECU, mendadak seorang perawat memanggil beliau. 

"Pak, dipanggil ibu!", kata perawat. Ayahku tidak paham maksudnya. Beliau bingung, juga keheranan. Perawat pun mengulang kalimatnya. "Pak, dipangggil ibu!". Dalam hatinya terus bertanya. Benarkah istriku yang memanggil? Sudah sadarkah ia dari komanya? Beliau pun melangkahkan kaki masuk ke dalam ruang ECU. "Pak, ibu mau bicara!", lanjut perawat. Kalimat perawat ini semakin membuat beliau keheranan. Bicara? Apakah istriku akan benar-benar berbicara? Atau aku harus mendekatkan telingaku padanya?


"Akung kemana aja? Aku nyari terus!", kata ibu kami. Ayah kami pun terkejut. Tak menyangka yang dilihatnya saat ini. "Aku tunggu di luar", jawabnya singkat. "Kenapa nggak nunggu disini aja?", tanyanya lagi. "Nggak boleh. Ini ruang steril. Harus tunggu di luar", ayah kami berusaha menjelaskan. "Mau bicara sama Yoky?", tanya ayah kami. "Iya", jawab ibu kami. Ayah kami bergegas memanggil adik keduaku. Sepanjang perjalanan keluar tak henti-hentinya diucapkan rasa syukur. Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar. 

"Ky, dipanggil mama!", kata ayah kami. "Hah?", jawabnya keheranan. "Dipanggil mama! Cepetan masuk!", lanjutnya. Adik keduaku pun juga keheranan. Ayah kami tidak memberi penjelasan apapun lagi. Ia pun bergegas masuk. Dalam hatinya pun juga bertanya-tanya.

"Mas, tadi malam malam dipindah kesini ya?", tanya ibu kami. Tak ingin membuat beliau bingung, diberikannya jawaban singkat, "Iya, ma". "Mas, mama haus, minta minum!", pinta ibu kami. Diberikannya seperempat gelas air putih kepada beliau. Sedotan yang ada di gelas disingkirkan beliau. Gelas itu dipegangnya erat sekali. Air putih itu habis, bahkan beliau berusaha mencari hingga tetesan terakhir. "Lagi, mas. Mama haus!, kata ibu kami. "Sebentar ma, tak ambilkan lagi", jawab adik keduaku. Diambilkannya seperempat gelas kedua. Beliau pun menghabiskannya kembali. 


***

Ayah kami segera menelpon saya dan putra bungsunya. Mengabarkan perkembangan kondisi terbaru ibu kami. "Alhamdulilah, Mama sudah sadar, mbak! Bicaranya lancar, mbak!". Ayah kami pun menceritakan semuanya. 

Sumber : weheartit.com
Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar. Matur sangat Ya Allah. Matur nuwun sanget. Tak henti-hentinya rasa syukur kami panjatkan kepada-Nya hari ini. 

Kabar bahagia itu pun diberitakan melalui pesan grup keluarga ibu kami. Ucapan terima kasih atas doa dan dukungan juga disampaikan ayah kami kepada seluruh keluarga besar ibu kami. Berita gembira ini benar-benar menjadi kebahagiaan kami hari ini. Ucapan rasa syukur dari terus mengalir dari kami. Alhamdulillahi rabbil alamin. Terima kasih untuk anugerah terindah-Mu kepada kami hari ini, Ya Rabb.

***




Ketika kita berdoa, terkadang Allah tidak langsung menjawab dengan segera. Tapi jangan khawatir, ditunda bukan berarti ditolak. Allah Maha Mengetahui kapan waktu terbaik untuk kita. 

Teruslah berdoa! Jadikan sholat dan sabar sebagai penolong, dan tawakal menjadi kunci penguat hati. Terus yakinkan diri bahwa rencana Allah SWT lebih indah daripada semua mimpi kita. Allah SWT adalah sebaik-baiknya pembuat rencana. Dia-lah pencipta skenario yang amat hebat.


#ODOPfor99days #Day38


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...