Seorang perempuan duduk termenung diatas kursi rodanya. Entah apa yang sedang dipikirkan. Sementara di sekelilingnya riuh rendah dengan lantunan lagu dan gelak tawa. Suasana Panti Wreda yang kami kunjungi saat ini memang sedang semarak. Beberapa ibu penghuni panti sedang bernyanyi. Melantunkan tembang lawas yang terkenal pada eranya. Mereka melakukannya dengan senang hati. Mereka ingin sekali dihargai. Kali ini bukan kami yang menghibur mereka, tapi justru mereka yang saat ini menghibur kami. Mbak-mbak, mas-mas, mau datang kesini saja sudah menjadi hiburan tersendiri untuk mereka. Obat rindu ke anak-anak mereka. Begitu kata salah satu pengurus panti.
Belakangan baru saya ketahui, jika sejarah ibu yang termenung tadi sebelum masuk panti sungguh tidak menyenangkan. Beliau hanya mempunyai 1 orang anak laki-laki. Sayangnya sang anak tidak mampu memahami ibunya. Bukan kasih sayang yang didapat dari sang anak. Namun pukulan yang setiap hari menghujani tubuh sang ibu. Astagfirullah hal adzim. Bahkan untuk makan, beliau malah mendapat lauk cakar ayam. Alasannya, gigi sang ibu sudah tidak mampu memakan makanan lain selain cakar ayam. Astagfirullah hal azdim. Justru bagaimana mungkin lauk seperti itu bisa dimakan oleh gigi seseorang yang sudah berusia lanjut? Benar-benar tidak masuk akal.
Lantas, bagaimana beliau bisa sampai di panti ini? Komunitasnya-lah yang membawa beliau. Mereka juga yang mencukupi semua kebutuhannya selama di panti. Mereka hanya ingin mengakhiri penderitaan sang ibu dari kekejaman sang anak. Ada satu hal yang tidak diketahui sang anak rupanya. Sang ibu hingga saat ini masih begitu merindukannya. Foto sang anak selalu dipandangnya ketika beliau rindu. Sayangnya sang anak tidak pernah sekalipun mengunjungi sang ibu.
***
Seketika ingatanku melesat pada ibuku yang saat ini masih terbaring di rumah sakit. Semua kenanganku bersama beliau mendadak muncul satu per satu.
![]() |
Ibu.. engkau perempuan istimewa ciptaan Allah SWT. Selama 9 bulan mengandung kami penuh beban dan tantangan. Selama 2 tahun menyusui kami, menahan diri dari banyak hal juga larangan. Mengorbankan karir dan masa mudamu hanya untuk merawatku dan kedua adikku. Seringkali berusaha keras menahan amarahmu atas kejahilan kami, keisengan kami, juga kesalahan kami.
Ibu.. seringkali engkau menahan lapar untuk kami. Memastikan putra putrimu ini makan lebih dulu darimu, bahkan rela memakan makanan sisa dari kami. Ibu.. seringkali engkau terjaga hingga kami semua tertidur. Bahkan rela tidak tidur ketika kami sedang sakit. Ibu.. engkau mengorbankan kebutuhan dirimu hanya untuk memuaskan keinginan sesaat kami atas barang-barang yang tidak sebenarnya kami butuhkan. Maafkan kami, ibu!
Ibu.. engkau memberi kami kasih sayang tanpa batas. Engkau begitu sabar dan tanpa kenal lelah membimbing dan memperhatikan kami. Engkau rela mengesampingkan kesenangan diri. Mengesampingkan impian juga cita-cita pribadi hanya untuk kami. Ibu.. bagaiamana engkau bisa melakukan semua itu untuk kami?
***
Plak!
Anak macam apa aku ini jika merasa berat mengurus seorang ibu yang telah rela mengorbankan segalanya untukku?
Plak!
Anak macam apa aku ini jika membiarkan masa tuanya tidak menerima kebaikan anaknya sebagai balasan atas pengorbanannya sepanjang hidup?
Plak!
Anak macam apa aku ini jika pekerjaan dan uang lebih penting daripada merawat ibu yang jelas-jelas begitu berjasa dalam hidupku?
*a note to myself*
#ODOPfor99days #Day39

Tidak ada komentar:
Posting Komentar