22 Februari 2016

Berharap Keajaiban-Nya


Waktu masih menunjukkan pukul 10.30. Tapi, kaki sudah mempercepat langkah menuju pinggir jalan. Sebuah taxi berwarna biru berhenti di depanku. Aku pun bergegas masuk ke dalamnya. "Kita ke RSAL ya, pak!", ucapku. Mobil itu kemudian melaju menuju ke rumah sakit angkatan laut di kotaku.

Ya.. siang ini giliranku menjaga ibuku. Sudah kusampaikan keinginan itu kepada ayahku hari sebelumnya. Ayah dan kedua adikku harus melaksanakan sholat jumat. Jelas, aku tidak ingin membiarkan mereka melewatkan kewajiban utama hari itu. 

***


Dari kejauhan kulihat beberapa orang menuju ke ruang ECU. Sepertinya pasien baru. Benar saja, pasien pria baru penghuni ruang ECU. Inilah ruangan steril untuk kondisi emegency. Setiap pasien di dalamnya mendapat perhatian khusus dari para perawat. Tak jarang terlihat beberapa monitor juga alat medis tertentu melekat pada tubuh pasien yang berada di dalamnya. Termasuk pada ibuku. Sudah beberapa hari ini beliau dalam kondisi koma. 

Ketika korden ruang ECU dibuka, kuintip kondisi ibuku dari balik kaca. Kondisi masih tetap sama. Ibuku masih tertidur nyenyak di ranjangnya. Kucoba membelalakan mataku lebih lebar, melihat monitor diatasnya. Napasnya masih di kirasan angka 10 dan 11. Itu adalah data medis pernapasannya dalam 1 menit. Ya Allah, mohon dengan sangat, angkatlah semua penyakitnya. Mohon berilah kesembuhan untuk ibuku!


***


Di ruang tunggu berukuran kurang lebih 6 meter kali 5 meter ini, kami berbagi dengan 4 keluarga yang lain. Seorang perempuan berkerudung biru tertunduk lesu. Wajahnya terlihat lelah. Beliau adalah istri dari pasien pria yang baru saja masuk ke ruang ECU. "Ayo makan dulu!", ucap seorang ibu lanjut usia. "Nanti saja, bu. Belum lapar", kata perempuan berkerudung biru itu. Beberapa keluarga lain di ruangan itu mencoba memberinya semangat untuk makan. "Ibu, harus makan! Harus sehat! Kalau ibu sakit, nanti siapa yang ngrawat suaminya", kata seorang ibu berkerudung merah hati. Beliau juga sedang menunggu suami yang dirawat karena sirosis hati. Beliau juga termasuk penghuni lama di ruang tunggu ECU ini, sama seperti kami. Dua keluarga pasien sebelum kami telah pulang ke rumah mereka. Masing-masing dari anggota keluarga yang dirawat telah meninggal dunia. Masih teringat jelas olehku, anak dan ibunya yang menangis meraung-raung ketika mengetahui ayah dan suaminya meninggal dunia. Astagfirullah hal adzim. Mohon beri perlindungan untuk ibuku, Ya Rabb. Sementara keluarga pasien lainnya telah kembali ke ruang perawatan biasa. 

Di ruang tunggu ECU ini kami berusaha saling memompa semangat. Kami berbagi cerita, juga hikmah atas apa yang kami hadapi saat ini. Harap dan cemas sama-sama pernah kami alami. Namun, sabar dan tawakal adalah kunci penguat hati kami hingga hari ini. 


***


Siang ini, kami berempat berdiskusi panjang tentang ikhtiar kami selanjutnya. Ayah kami menjelaskan semua hasil pembicaraannya pagi tadi dengan dokter ahli ginjal dan tim haemodialisa. Kami dihadapkan pada 2 pilihan sulit. Infeksi mama sudah menyebar hingga darah yang mengalir ke otak. Itulah yang menyebabkan mama dalam kondisi seperti saat ini. Solusi yang diberikan dokter ahli ginjal adalah haemodialisa (cuci darah). Sementara untuk menjalani haemodialisa, pernafasan mama saat ini sangat dangkal.

Tindakan haemodialisa pun sepakat kami pilih. Kami tidak ingin membiarkan infeksi itu semakin menyebar sehingga menambah rasa sakit yang dialami ibu kami. Saat itu yang terlintas di benak kami hanyalah berharap keajaiban dari-Nya. 

Dan sepertinya kali ini, lagi-lagi kami harus mempercayakan semua pada rencana-Nya. Ketika semua proses untuk haemodalisa telah siap, tensi ibu kami turun menjadi 100/60. Tindakan haemodialisa kembali ditunda. Ya Allah Ya Rabb, kami benar-benar berharap pada keajaiban-Mu. 


Sumber : plus.google.com

#ODOPfor99days #Day36





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...