Sepeninggal Budhe Tiah, khadimat kami, hingga hari ini belum ada lagi pengganti beliau. Beberapa kali tetangga maupun saudara menawarkan jasa khadimat kepada kami, namun tetap belum ada yang pas di hati. Agak susah buat saya memasukkan anggota baru ke dalam rumah, sementara saya sendiri merasa belum sreg. "Mbok ya diterimo dhisik tho dik, aku iki mesakke nonton kowe. Yo kerjo, ngurusi arek-arek, ditambah maneh mrantasi omah", kata Pak Dirut. Ya sudah diterima dulu aja dik, aku kasihan ngliat kamu, ya kerja, ngurus anak-anak, masih ditambah berusaha nyelesain urusan rumah. Sayangnya beberapa kali kutolak pula tawarannya dengan halus. "Insya Allah masih bisa, yank!, jawabku menegaskan.
Sepertinya aku terlalu sombong jadi perempuan. Mengganggap diri ini wonder woman, merasa bisa mengurus semuanya. Sampai suatu hari mendadak muncul keluhan yang sangat menyiksa di perut. Bahkan sampai harus menjalani beberapa kali pemeriksaan laboratorium, hingga berganti dokter. Untuk apa? Hanya untuk sebuah second opinion penegasan. Demi tegaknya diagnosis dokter pertama. Allah SWT sedang memberikan cubitan-Nya untukku. Astagfirullah hal adzim.
Sejak kejadian itu, praktis aktivitas di dalam maupun luar rumah jadi amburadul. Beberapa kali izin kantor untuk nge-lab, sampai izin tidak masuk untuk bed rest. Belum lagi urusan rumah, makin nggak jelas kondisinya. Rumah berantakan, ditambah anak-anak makin nggak keurus makannya. Astagfirullah hal adzim.
![]() |
Harus berubah! Aku nggak mau begini terus! Terus menguatkan hati, menguatkan tekad, mengobarkan semangat untuk berubah dan bebenah. Diskusi pun dilakukan dengan suami. Kerjasama pun coba dijalin bersama anak-anak. Tumpukan kerjaan, kelelahan yang melanda, pola makan tidak teratur, juga kebiasaan buruk mengkonsumsi beberapa makanan pemicu penyakitnya pun dianalisa. Perubahan pun dilakukan. We can do it together! Yes, we are a great team!
Alhamdulillah, kondisi rumah juga kesehatan diri berangsur normal kembali. Insya Allah. Bersyukur atas cubitan sayang dari-Nya sebagai pengingat diri. Matur nuwun sanget, Ya Allah.
Dibalik sebagai ujian atau cobaan yang terjadi di satu sisi, pasti ada hikmah di sisi lainnya. Hikmah apa yang diperoleh sejak kejadian itu?
- Untuk suami? Kolaborasi kami makin harmonis ketika akhirnya saya bisa konsisten tandem bareng Pak Dirut urusan beberes rumah. Pak Dirut sekarang jadi Manager Laundry Rumah Agrapana. Segala urusan cucian, mulai dari urusan mencuci, mengerikan, menjemur, sampai angkat jemuran, jadi job desk baru Pak Dirut. Kadang ditambah job desk nyapu dan ngepel kalau saya keliatan masih riweuh. Minder? Nope! Beliau bahkan melakukan tanpa malu maupun ragu. Semangatnya cuma satu : meringankan beban istrinya. Matur nuwun sanget nggih, yank.
- Untuk anak-anak? Perlahan tapi pasti, anak-anak kian mandiri. Alvin dan Keenan mulai mandiri mengambil makanan. Biasanya saya yang mengambil atau menyiapkan sarapan, makan siang, atau makan malamnya. Sambil naik kursi kecil, mereka berusaha mengambil nasi dan lauknya di dapur. Alvin dan Keenan juga makin terampil membuat susu sendiri. Selain itu, autopilot self help mereka pun berjalan. Setelah selesai makan dan minum, spontan meletakkannya di tempat cuci piring. Perkembangan toilet Keenan juga makin naik grafiknya. Mereka juga suka bantuin emaknya cuci piring plus bersihin kamar mandi. Ternyata buat mereka, ini jadi aktivitas yang fun. "Enak ma, main-main air!", katanya. Buat saya, ini bagian dari latihan kemandirian, sekaligus life skill untuk mereka. Harapannya agar kelak ketika mereka telah berumahtangga nanti, mereka lebih menghargai sang istri.
- Untuk saya? Jelas makin aware sama kesehatan diri. Udah nggak bisa makan semaunya sendiri. Pola makan mulai diatur. Teh, kopi, dan makanan pedas, sudah tereliminasi dari daftar menu harian saya. Gimana bisa ngurusin rumah, kalau kondisinya ratu rumahnya ndak fit. Beberes rumah? Jelas makin ringan dengan bantuan Pak Dirut, dan pasukan sholih kami. Tapi tetap saya masih mengurus sebagian besar urusan rumah kami. Maklum, statusnya masih tetap General Manager Rumah Agrapana. Leadernya? Tetap suami dong sebagai Direktur Rumah Agrapana.
Sebuah pelajaran berharga untuk saya. Kejadian itu makin menguatkan kami sebagai Family Home Team. And as what I've said before, we are a great team! Agrapana Home Team! :)
![]() |
#ODOPfor99days #Day24


Tidak ada komentar:
Posting Komentar