Video singkat berdurasi 3 menit yang dibagikan Mbak Farda siang ini di grup benar-benar menginspirasi. Saya bahkan tak bosan memutarnya berulang kali. Beberapa kali mencoba memasang linknya dari grup IIP Surabaya #3, entah kenapa tidak mau muncul disini. Alhamdulillah, akhirnya menemukan video yang sama di Youtube. Matur nuwun video inspirasinya, Mbak Farda.
Sebuah tayangan inspiratif untuk keluarga tentang praktek pendidikan yang menumbuhkan. Yuk, kita simak videonya!
Melihat video ini, ingatan saya langsung melayang ke satu buku yang pernah saya baca. "Anak Bukan Kertas Kosong" karya Bukik Setiawan. Di Bab 4 buku tersebut, dibahas cara membuat anak belajar seasyik bermain. Gimana caranya? Apa hubungannya dengan video ini? Yuk, sambil kita bahas satu per satu melalui isi videonya ya!
RASA INGIN TAHU
Tayangan dimulai ketika Netnapa Saelee kecil, yang akrab dipanggil Ju, menemani ibunya belanja ke pasar. Disana dia melihat pedagang kecambah yang laris menjual dagangannya. Ju penasaran, mengapa kecambah tersebut bisa laris. Ia pun bertanya kepada sang ibu, yang kemudian menjawab, “Karena hanya orang itu saja yang berjualan kecambah.”
![]() |
Nah, dapat kan tahap pertamanya? Yap, rasa ingin tahu. Anak adalah pembelajar alami. Ia penuh rasa ingin tahu. Ia bertindak untuk memuaskan keingintahuannya tersebut. Anak belajar bukan dengan mengetahui cara yang benar, anak belajar dengan mencoba atau mengalami sendiri. Ia kemudian mengolah informasi dari pengalaman itu, mengonstruksi pengetahuan atau pelajaran yang penting baginya. (hal 75)
Jadi, jangan pernah matikan rasa ingin tahu anak-anak! Mengapa? Karena belajar seasyik bermain dimulai dari rasa ingin tahu anak. Lantas apa yang harus dilakukan orang tua? Berikan respon positif seperti yang dilakukan Ibu Ju. "We Can Try", begitu katanya. Sang ibu mengiyakan usul Ju untuk menanam kecambah.
Jadi, jangan pernah matikan rasa ingin tahu anak-anak! Mengapa? Karena belajar seasyik bermain dimulai dari rasa ingin tahu anak. Lantas apa yang harus dilakukan orang tua? Berikan respon positif seperti yang dilakukan Ibu Ju. "We Can Try", begitu katanya. Sang ibu mengiyakan usul Ju untuk menanam kecambah.
KESEMPATAN BELAJAR
Kalimat Ibu Ju, "We Can Try", telah membawa Ju pada tahap berikutnya, yaitu terbukanya kesempatan belajar. Awalnya, Ju bersama sang ibu meletakkan biji-biji kecambah tersebut di bawah paparan sinar mentari. Ternyata, kecambah yang tumbuh tampak kecil, kisut, dan tidak segar. Namun sang ibu tidak menyerah, walau ia hanya tamatan kelas 4 SD. Sang ibu berusaha membaca buku bersama Ju tentang bagaimana menanam kecambah dengan benar. Ternyata, biji kecambah yang ditanam harus diletakkan di tempat gelap.
Di usaha kedua mereka menutup benih kecambah dengan kain. Namun usaha keduanya pun belum berhasil. Kecambah yang tumbuh, hasilnya sama saja dengan percobaan pertamanya. "It's okay. We can try again". Lagi-lagi sang ibu tidak menyerah dan terus menyemangati putrinya. Ternyata, kecambah butuh disiram secara teratur.
Sang ibu sampai harus berpura-pura menutupi kesedihannya, karena tabungan mereka tinggal sedikit, sementara kegiatan menanam kecambah belum menghasilkan. Namun, di malam hujan deras, ketika rumah mereka bocor justru memberikan inspirasi buat sang ibu. Sang ibu bersama Ju kemudian membuat alat sederhana dari botol bekas. Alat sederhana ini pula yang secara otomatis menyirami benih-benih kecambah mereka.
PENGALAMAN SERU
Menanti-nantikan kecambah yang tumbuh dengan segar, seperti yang dijual di pasar, adalah momen-momen menegangkan bagi Ju dan Sang Ibu. Namun, saat pada akhirnya usaha mereka berhasil, ini menjadikan tahapan ketiga belajar seasyik bermain tercapai, yaitu sebuah pengalaman seru.
Pengalaman seru inilah yang kemudian menjadi pegangan hidup Ju. Sang ibu yang terus memberi kesempatan “We can try” membuatnya terkesan dengan proses belajar yang melibatkan percobaan dan eksperimen, terutama sains. Mulanya Ju adalah seorang penanam kecambah. Namun pengalaman seru telah membawanya menjadi doktor di bidang bioteknologi.
KEBERMAKNAAN
Tahapan terakhir dari rahasia belajar seasyik bermain adalah kebermaknaan. Percobaan menanam kecambah ini sangat berarti buat Ju dan sang ibu. Ju melihat betapa sang ibu mau berusaha keras, dan tidak begitu mudah menyerah saat panen kecambah awalnya tidak seperti yang mereka harapkan.
Keberhasilan yang akhirnya dicapai membawa kecambah mereka selalu ludes terjual di pasar. Ini membawa kebermaknaan berikutnya bagi Ju, karena dengan belajar menanam kecambah dengan benar – dan berhasil menjualnya – Ju kecil pada akhirnya bisa mengenyam sekolah. Usaha mereka akhirnya terbayarkan – tidak hanya secara material saja – namun memberikan kesan mendalam bahwa pengalaman belajar ini sangat berarti.
Menarik sekali kan videonya? Semoga kita bisa belajar dari kisah dalam video ini. Ah, saya jadi ingat kutipan yang benar-benar saya suka dari buku Anak Bukan Kertas Kosong :
Pendidikan itu bukanlah menanamkan, melainkan menumbuhkan. Pendidikan bukanlah mengubah beragam keistimewaan anak menjadi seragam, melainkan menstimulasi anak untuk menjadi dirinya sendiri. Pendidikan bukanlah proses memberi tekanan dari luar, melainkan menumbuhkan keistimewaan dalam diri anak. Pendidikan memfasilitasi tumbuh kembangnya keistimewaan anak agar anak menjadi mandiri dan bermanfaat bagi lingkungan sekitarnya. Pendidikan yang menumbuhkan itu memanusiakan, proses yang membuat seorang anak menjadi manusia seutuhnya. (hal 46)Jadi, sudah siapkah kita dengan pendidikan yang menumbuhkan bagi anak? Sudah siapkah kita mengajak anak belajar seasyik bermain? Selamat bermain!
Semoga bermanfaat!
Sumber :
- http://temantakita.com/inilah-rahasia-anak-belajar-seasyik-bermain-yang-harus-diketahui-orangtua/
- http://www.sarnrak.net/inspiration/en/a-story-of-netnapa.html
- Anak Bukan Kertas Kosong, Bukik Setiawan, PandaMedia, 2015
#ODOPfor99days #Day17

Tidak ada komentar:
Posting Komentar