![]() |
| source : http://api.ning.com/ |
“Learn it, write it, share it! Terus terang saja kalimat ini terus-menerus ada dalam benak saya. Tadinya hanya berniat untuk menyimpan saja hasil resume perkuliahan virtual Bunda Sayang Batch #5 ini dalam file saya. Namun ternyata beberapa teman di grup whatsapp, ada yang belum berkesempatan mengikuti perkuliahan Bunda Septi. Walaupun agak sedikit terlambat, namun berbekal semangat sharing is caring, akhirnya saya mencoba memberanikan diri untuk menuliskan kembali hasil resumenya disini (sekaligus menjadi pengingat untuk saya).
Komunikasi adalah proses penyampaian pesan. Komunikasi dikatakan produktif jika pesan telah tersampaikan dan diterima dengan baik. Mengapa kemudian komunikasi produktif ini menjadi penting? Karena komunikasi ini yang nantinya menjadi salah satu pilar untuk menjalin ikatan yang kuat dalam mewujudkan visi dan misi keluarga
Untuk bisa melakukan komunikasi produktif, maka kita harus berkomunikasi dengan cara / bahasa abnormal, maksudnya berkomunikasi dengan cara / bahasa yang tidak digunakan oleh orang-orang pada umumnya. Misal : meminimalisir penggunaan kata “JANGAN”, dan menggantinya dengan kalimat positif lainnya.
Saat melakukan komunikasi, ada beberapa MENTAL WARRIOR yang harus diwaspadai, yaitu :
- Mr. Ah Bad : selalu melihat segala sesuatu dari sisi keburukan
- Mr. Cold Water : selalu cuek dengan sekitarnya
- Mr. Lose Lose : selalu serba kalah (mudah menyerah)
Ketiga unsur ini harus dikendalikan dalam diri kita, dengan cara pintar-pintar berkomunikasi dengan diri kita sendiri. Oleh karena itu : FOR THINGS TO CHANGE, I MUST CHANGE FIRST. Bagaimana caranya?
- Mulai membuat komunikasi produktif;
- Mulai berkata positif dan member energi positif pada diri sendiri terlebih dahulu;
- Mulai memandang sisi positif dari diri sendiri terlebih dahulu.
POLA KOMUNIKASI
1. KATA = POLA PIKIR KITA.
- Pilih kata-kata kita. Sama-sama mengucapkan kata, pilih kata positif saja. Mengapa? Karena kata-kata merupakan wujud pola pikir kita.
- Kata / kalimat positif akan selalu memberikan energi positif besar pada diri kita.
3. KATA = DIRI KITA
- Apa yang sering kita ucapkan, maka itu adalah identifikasi diri kita.
Protect yourself, dari 3 mental warrior yang harus diwaspadai diatas. Manakala mental warrior tersebut ada pada diri kita, segera katakan, “Cancel..cancel.. Go away!”. Jika masih tetap ada, segera katakan, “SWITCH!”. Ganti segera dengan hal sebaliknya. Karena musuh terbesar kita adalah diri kita sendiri. Jika sudah bisa menaklukkan diri sendiri, Insya Allah semuanya bisa berjalan lancar.
THE MAGIC COMMUNICATION
Ada kalanya pada saat melakukan komunikasi, pesan tidak tersampaikan secara tepat. Oleh karena itu, perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut :
1. Fokus pada solusi, bukan pada masalah.
- Pada saat menemukan masalah, fokus pada solusi, segera temukan solusinya. Kepercayaan diri anak juga kita dibangun dari kebiasaan kita memandang persoalan.
2. Ganti kata tidak bisa, menjadi BISA.
- Kuncinya adalah segala sesuatu bisa kita kita pelajari. Kalimat SAYA BISA, akan membangun kepercayaan diri kita.
3. Katakan apa yang kita inginkan, bukan apa yang tidak kita inginkan.
- Menyampaikan apa yang kita inginkan akan menjadi efektif setiap kita berkomunikasi dengan anak dan keluarga kita.
4. Fokus ke depan, bukan pada masa lalu.
- Jika anak melakukan kesalahan, beri kesempatan kembali. Sampaikan resiko serta solusi sebagai antisipasi sebelum kejadian yang sama terulang. Jadi anak memahami resiko dan solusinya, sehingga mereka tetap semangat untuk mencoba kembali. Tidak perlu mengungkit-ungkit kesalahannya di masa lalu.
THE MAGIC WORD
Komunikasi lisan erat kaitannya dengan kata-kata yang digunakan. Jenis komunikasi ini pula yang sering kita gunakan pada saat berkomunikasi dengan anak. Oleh karena itu, pada saat berkomunikasi dengan anak, perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut :
1. Anak tidak memahami kata JANGAN.
- Kata JANGAN jika diucapkan secara terus-menerus, akan memicu kekhawatiran pada diri anak, dan akhirnya menjadi penyebab munculnya ketidakpercayaan diri pada anak.
- Ketika kita mengurangi kata JANGAN, maka anak akan fokus pada hal yang benar saja.
2. Keep Information Short and Simple (KISS).
- Pesan yang terlalu panjang (bertele-tele) tidak akan efektif dalam berkomunikasi. Komunikan hanya akan mengingat sebagian saja dari pesan yang disampaikan.
3. Jelas dalam memberikan pujian dan kritikan.
- Tidak selamanya anak akan menjadi hebat dengan kata SAYANG secara terus-menerus.
- Pujian dan kritikan harus disampaikan secara seimbang. Pada saat akan melakukan kesalahan, kita bisa memberikan kritikan secara tepat. Begitu pula pada saat anak melakukan kebaikan, kita juga bisa memberikan pujian secara tepat. Jika ini dilakukan secara seimbang, kita akan menjadi orang tua yang adil.
4. Kendalikan suara dan gunakan suara ramah.
- Jika anak berada pada jarak 1 – 2 meter dari kita, maka datangi mereka dan sampaikan pesannya. Kita tidak perlu berteriak untuk menyampaikan pesannya.
5. Seringlah member kejutan menarik pada anak.
- Kejutan akan memberikan kesan yang tidak terlupakan bagi anak, dan juga akan mempunyai efek timbal balik pada diri kita.
Beberapa kesalahan yang terjadi dalam komunikasi sehingga memicu misskomunikasi adalah pesan tidak sampai karena kesalahan dalam pemilihan kata-kata. Untuk itu CHANGE YOUR WORDS. Ganti kata / kalimat negatif dengan kata / kalimat positif, misalnya :
- Masalah = TANTANGAN
- Susah = MENARIK
- Saya tidak tahu = SAYA CARI TAHU
- Yaaah = YESS!
Komunikasi produktif membutuhkan 2 C, yaitu :
1. CLEAR
- Gunakan bahasa yang dimengerti oleh penerima pesan (komunikan)
- Keep Information Short and Simple (KISS)
2. CLARIFY
- Don’t assume (Jangan berasumsi). Jika ragu, tanyakan!
KOMPONEN KOMUNIKASI
- Verbal : 7 % pengaruhnnya
- Non Verbal : 93 % pengaruhnya, terdiri dari : Intonasi : 38 % dan Body Languange : 55 %
FORMULA KOMUNIKASI
1. High Energy
- Pada saat berbicara dengan anak-anak, keluarga, atau penerima pesan (komunikan), gunakan high energy (lakukan secara sungguh-sungguh), sehingga mata, hati, dan bahasa tubuh juga turut berbicara.
- Jangan lakukan kegiatan lain pada saat berkomunikasi, misal bermain handphone, melihat-lihat pekerjaan lain, dll
2. Intensity of Eye Contact
- Lihat mata orang yang sedang berbicara dengan kita.
- Jika berbicara dengan anak-anak, maka segera turunkan badan kita biar sejajar dengan mereka sehingga mata anak dan mata kita bisa saling melihat.
3. Transfer of feelings
- Jadilah pendengar yang baik. Jangan buru-buru memberi penjelasan.
- Don’t just hear, but listening. Lakukan komunikasi secara sungguh-sungguh bukan hanya mendengar saja, tapi berkomunikasi pula dengan hati (benar-benar mendengarkan dan merasakan).
4. Strategy
- Mengetahui kapan harus memberikan pujian, kapan harus memberikan kritikan, kapan harus diam, kapan harus memberikan efek jera. Misal : pada saat anak-anak melakukan kebaikan, maka strateginya adalah beri mereka pujian dan rayakan kebaikan tersebut. Begitu pula sebaliknya, ketika mereka melakukan kesalahan maka strateginya adalah sampaikan kritikan secara khusus, cukup empat mata saja (antara ibu dan anak).
- There is no failure, there is only a wrong strategy. Ketika kita mengalami kesalahan dalam berkomunikasi, segera ubah strategi kita dan buat perubahan mulai dari diri sendiri.
Semoga bermanfaat! :)
Narasumber : Septi Peni Wulandani

Tidak ada komentar:
Posting Komentar