Alhamdulillah, setelah 1 bulan bergabung di grup whatsapp IIP Surabaya #3, akhirnya semalam bisa merasakan yang namanya KULWAP (Kuliah via Whatsapp). Sejak pagi sudah semangat sekali membaca materinya, "Mendidik Anak Lelaki Menuju Aqil Baligh". Wah, pas banget sama kondisiku sekarang, hehehe
Hhhmmm... materinya oke nih. Narasumber : Harry Santosa. Hhhhmmm... siapa ya? Saking penasaran, saya segera mencari profil tentang beliau. Ternyata beliau ini pemilik fanpage Millenial Learning Center, sebuah komunitas tentang Home Education. Beliau pula yang seringkali menuliskan tentang Renungan Pendidikan (Pendidikan Peradaban Berbasis Fitrah dan Akhlaq). Dan saat ini, kita sudah bisa menikmati karya terbaru beliau, melalui buku Fitrah Based Educatio yang baru saja launching. Asyik, next book to be read!
Baiklah, kami siap menimba ilmu dari Bapak. Semoga Allah SWT memberikan kami kemudahan dalam menyerap ilmu. Amin! Dan berikut adalah resume kulwap semalam. Selamat membaca!
Dr Malik Badri, seorang psikolog Muslim asal Sudan, tahun 1980-an dan tahun 2000-an pernah ke Indonesia, beliau dikenal dengan bukunya yang berjudul Dilemma Psikolog Muslim, sudah diterjemahkan sejak lama di Indonesia.
Beliau mengatakan bahwa penjenjangan toddlers, kids, teenagers, adults, dimana masing-masing ada tahap awal, tengah, dan akhir, lalu ada pubertas dan sebagainya, sesungguhnya tidak pernah bisa dibenarkan secara ilmiah. Itu hanya pengamatan masyarakat barat terhadap masyarakat mereka. Penjenjangan tidak ilmiah ini kemudian masuk ke dalam penjenjangan sistem persekolahan.
Sementara Islam hanya mengenal dua fase saja, yaitu fase sebelum aqilbaligh, dan sesudah aqilbaligh. Baligh pada anak pria ditandai dengan mimpi basah (ihtilam), dan pada wanita ditandai dengan menstruasi (haidh).
Islam, bahkan dunia sampai abad 19 tidak mengenal fase remaja (adolescence). Fase ini diciptakan pada era industri sampai kini dengan berbagai kepentingan konglomerasi akan sebuah kelas konsumtif dan kepentingan negara sepihak untuk memanipulasi data demografis.
AqilBaligh dalam Islam tentu bukan sekedar pertanda fisik, namun juga pertanda berpindahnya fase anak sebelum wajib syariah, dan fase sesudahnya yaitu pemuda, fase dimana jatuhnya kewajiban menjalankan syariah, atau masa pembebanan syariah, atau sinnu taklif.
Islam tidak mengenal aqil belum baligh, atau baligh belum aqil (remaja).
Maka ketika seorang anak mencapai aqilbaligh, maka dia tidak lagi disebut anak, tetapi seorang pemuda yang setara dengan kedua orangtuanya dalam kewajiban ibadah, jihad, zakat, nafkah dan seterusnya.
Semua ulama fiqih sepakat, bahwa anak lelaki yang sudah mencapai AqilBaligh, maka orangtua tidak wajib lagi menafkahinya. Jika ada anak lelaki kita yang aqilbaligh yang masih dinafkahi, maka sebenarnya bukan nafkah tetapi shodaqoh, karena statusnya faqir miskin.
Oleh karenanya, sistem pendidikan Islam seharusnya menyiapkan anak lelaki agar mampu menjadi mukalaf atau orang yang mampu memikul syariah tepat ketika dia aqilbaligh.
Sayangnya, sistem pendidikan kita umumnya abai terhadap konsep dan praktek AqilBaligh ini. Syariah yang diajarkan akan tidak banyak artinya, jika anak tidak mencapai aqil ketika baligh, artinya mereka tidak mampu memikul beban syariah.
Ada kesenjangan yang lebar antara aqil dan baligh. Anak anak yang sudah dewasa secara biologis atau mampu bereproduksi (baligh), ternyata tidak lantas menjadi mampu dewasa secara psikologis, finansial, mandiri memikul syariah, dan kewajiban sosial lainnya (aqil). Umumnya baligh terjadi di usia 12-14 tahun, tetapi Aqil baru dicapai di usia 22-24 tahun
Riset membuktikan bahwa dalam sistem persekolahan dan sosial modern, telah terjadi pembocahan yang panjang. Kenakalan, kegalauan, depresi, penyimpangan sosial, dan perilaku sex dan lain-lain, diakibatkan karena kesenjangan antara masa tibanya baligh (dewasa biologis reproduktif) di usia 12-14, dengan tercapainya aqil (dewasa psikologis produktif) di usia 22-24 bahkan lebih.
Sampai disini, maka bisa dipahami betapa pentingnya mendidik generasi aqilbaligh, generasi yang aqil dan baligh dicapai bersamaan.
Kapan dimulai pendidikan generasi aqilbaligh, tentu sejak usia dini, 0-6 tahun. Titik kritikalnya di usia 7 dan 10 tahun. Kritikalnya fase ada di pre AqilBaligh, usia 10-14 tahun. Catatan bahwa Usia 14 adalah rata-rata usia seseorang mencapai baligh.
Usia 10 tahun adalah titik kritis untuk "mengenal" Allah (fitrah keimanan) dan "mengenal diri" (fitrah bakat) secara mendalam. Usia 11-14 tahun, anak-anak pre aqilbaligh akan menjalani masa yg paling berat sepanjang masa anak-anaknya karena inilah persiapan aqil baligh.
Bagaimana pada fase pre aqilbaligh, fitrah keimanannya berwujud menjadi akhlak yg mulia yang dibutuhkan sebagai kredibilitas attitude dan sosialnya pada fase aqilbaligh. Bagaimana pada fase pre aqilbaligh, fitrah bakat dan fitrah belajar berwujud menjadi peran dan karya produktif yang dibutuhkan sebagai kredibiltas kompetensinya, dan kredibilitas peran profesinya pada fase aqilbaligh.
Pada prinsipnya, mendidik anak lelaki dan anak wanita sama, yaitu merawat dan menumbuhkan fitrah, baik fitrah keimanan (aqidah), fitrah belajar dan nalar, fitrah bakat dan peran sesuai tahapan usianya.
Hanya yang membedakan adalah fitrah peran kelelakian, dan peran keayahan yang harus dibangkitkan pada anak lelaki. Diantara kewajiban anak lelaki ketika mencapai aqilbaligh adalah menjadi Qowam, pencari nafkah, dan pemimpin rumah tangga, perancang visi rumah tangga, dan seterusnya.
Karenanya, leadershipnya bisa dimulai sejak usia dini dengan yang paling sederhana, misalnya memelihara hewan dan tumbuhan. Rasulullah SAW menggembala kambing ketika usia dini (0-6 tahun) di Bani Sadiah. Setelah itu usia 7-10 tahun mulai libatkan dalam project-project sederhana di rumah. Usia 11-14 tahun mulai antarkan ke Maestro atau pakar/maestro yang sesuai bakatnya untuk magang. Rasulullah SAW mulai magang bersama pamannya di usia 11-12 tahun.
Di usia ini, menitipkan anak pd keluarga sholehah (homestay) atau Murobby (pendamping akhlak) juga penting untuk menularkan keteladanan dan keshalihan.
![]() |
| Kulwap IIP Surabaya #3 |
TANYA JAWAB
Bunda Ida
Anak saya yang pertama laki-laki,
sudah ihtilam 1 bulan yang lalu. Saya pesantrenkan. 2 minggu sekali dikunjungi
oleh abinya. Pertanyaan saya, secara psikologis apa yang terjadi pada anak
setelah ihtilam yang pertama. Sebelumnya sudah saya diskusikan dengan ananda
terkait ihtilam dan konsekuensi di sisi hukum syara. Namun setelah ihtilam
pertama ananda mengaku kaget dan takut.
Mohon masukan agenda
pembicaraan apa yang harus kami susun setiap kali menengok ananda untuk memperkuatnya menjadi aqilbaligh? Ada
kesulitan tersendiri, karena ananda tipe anak yang sulit bercerita.
Jazakumulloh.
Ust. Harry Santosa
Sesungguhnya
boarding school hanya disarankan bagi anak yang sudah menjadi pemuda, bukan
hanya baligh (dewasa biologis), tetapi juga dewasa mental (aqil), agar tidak ada
"kekosongan" ayahbunda di saat saat kritis antara baligh dan aqil.
Sistem sosial pada hari ini,
mohon maaf telah membuat kesenjangan yang banyak antara baligh di usia 11-12
tahun dengan aqil yang umumnya baru terjadi pada usia 22-24 tahun.
Semoga pertemuan dua pekanan
cukup untuk ananda menyelesaikan kegalauan masa transisinya. Pada anak lelaki
umumnya kegalauan ini tidak selalu dinampakkan.
Dalam pendidikan berbasis
fitrah yang kami kembangkan, untuk fitrah gender, usia 7-10 tahun anak lelaki
didekatkan ke ayah dan anak wanita didekatkan ke ibu, dan usia 11 - 14 tahun dibalik,
karena anak memerlukan sosok lawan jenis yang terdekat darinya untuk meredakan
gairah cinta yang mulai tumbuh. Untuk fitrah bakat dan sosial, anak usia 11 -
14 tahun adalah usia pencarian jati diri atau bakatnya sehingga dirinya memiliki self
confidence dan self eficacy untuk berperan dalam dunia sosial yang lebih luas
menjelang aqilbaligh.
Maka saran saya, sebaiknya
bunda yang sering mengunjunginya untuk obrolan seputar lawan jenis, dan ayah
untuk obrolan seputar peran sosial dan pengembangan bakat
Bunda Djuwita
Saya Djuwita, mau nanya umm,
tanda2 kematangan fisik dan mental seperti apa yang akan ditunjukkan anak laki-laki saat
akan akil baligh? Anak saya 10 tahun. Mohon jawabannya Ustad Harry Santosa. Matur nuwun.
Wassalamualaikum
Ust. Harry Santosa
Bunda Djuwita yang
baik,
Baligh atau dewasa biologis
pada anak lelaki biasanya ditunjukkan dengan kemampuan bereproduksi, spt mimpi
basah - keluarnya sperma (ihtilam), atau perubahan suara, disertai tumbuhnya
jakun (kalau anak gemuk tidak terlihat), kumis dan bulu kemaluan. Pada anak
wanita patokannya simple yaitu haidh atau menstruasi. Umumnya baligh dicapai
pada usia 11-12 tahun, jika kurang dari itu biasanya terlalu cepat, itu karena
hormonal dipengaruhi rangsangan dari luar misalnya tontonan, mode pakaian
terbuka, dan lain-lain.
Kalau Aqil, kedewasaan
mental, psikologis, emosional, finansial dan lain-lain, tentu harus dididik.
Bunda Winny
Pertama, bagaimana cara kami
(sebagai ibu) mempersiapkan diri sebelum waktu ihtilam itu datang?
Kedua, untuk latihan leadership
dalam bentuk project2 kecil di rumah, contohnya seperti apa?
Ust. Harry Santosa
Bunda Winny yg baik,
Orang bilang menjadi tua
adalah keharusan (nature), tetapi menjadi dewasa pilihan (nurture). Maka
kedewasaan itu harus dipersiapkan. Titik kritis persiapannya ada di usia 7 - 10
tahun. Indikatornya di usia 10 tahun harus tuntas mengenal Allah (aqidah), dan
mengenal diri (bakat).
Pertama, yang perlu dipersiapkan
adalah ruhiyah dan perubahan mindset. Ketahuilah bahwa sesungguhnya
mendidik anak selesai ketika mereka telah aqilbaligh, karena secara syariah
setiap yg aqilbaligh berarti sudah mukalaf, mampu menanggung beban syariah,
bukan hanya sholat dan puasa, tetapi juga zakat, nafaqoh, nikah dan jihad.
Maka kita membutuhkan
kekuatan ruhiyah yg cukup agar Allah berikan qoulan sadida, yaitu ucapan,
fikiran, gagasan, tindakan yg berbobot, karena anak akan memasuki masa yg
paling berat sepanjang hidupnya yaitu usia 11-14 tahun, masa persiapan
aqilbaligh.
Semua ulama fiqih sepakat
bahwa anak yg sudah aqilbaligh tidak wajb lagi dinafkahi, jika masih dinafkahi
maka statusnya shodaqoh karena dia fakir miskin.
Kedua, membangkitkan fitrah
kepemiminan atau executive functioning di usia 2 - 7 tahun adalah dengan memelihara
ternak, atau tumbuhan, sedangkan di usia 7 - 10 tahun adalah dengan tanggungjawab
sosial, dan bisnis kecil2an.
Bunda Mifta
Assalamu'alaikum ustad, anak
laki-laki saya usia 8 tahun, dan anak perempuan saya usia hampir 4 tahun. Mohon
penjelasannya ustad :
Pertama, mengingat porsi saya lebih banyak bersama anak-anak dibanding suami, apakah hal ini berpengaruh pada kesempurnaan fase aqilbaligh
anak bila misalnya pendekatan fitrah peran keayahan si kakak lebih banyak
diberikan oleh umminya ?
Kedua, apakah ada buku rujukan
ustd utk materi mendidik anak dengan fitrah ini?
Ketiga, bagaimana memperkecil
kesenjangan masa aqilbaligh anak-anak bila mereka terlanjur masuk dalam sistem
persekolahan diluar rumah? Bahkan rentang waktunya lebih panjang
(fulldayschool)
Ust. Harry Santosa
Bunda Mifta yg baik,
Memang umumnya anak-anak
selalu dekat dengan bunda, karena suami umumnya bekerja. Di usia 0-7 tahun, ayah bisa
saja sesekali hadir, tetapi mohon maaf, sejak usia 7 tahun ke atas, ketika ada
perintah sholat dan anak lelaki sudah mulai punya tanggungjawab moral dan
sosial, maka ayah harus sangat dekat dengan anak lelaki.
Pertama, jelas berpengaruh bunda.
Kasus LGBT umumnya karena anak lelaki terlalu dekat dengan ibu dikala mereka
membutuhkan lebih banyak sosok ayah. Ayah sebaiknya mulai merevisi ulang
misinya jika terlalu sibuk, atau bunda bisa bantu antarkan anak bunda kepada "sosok ayah", seperti kakeknya, pamannya, yg bisa dekat kepada ananda.
Kedua, saya besok me-launching
bukunya, isinya framework pendidikan berbasis fitrah
Ketiga, sistem persekolahan dimana-mana sama, yaitu melambatkan kedewasaan sampai anak anak kita lulus kuliah, bahkan sampai bekerja, di Amerika seseorang dianggap dewasa sudah memasuki usia
26 tahun. Ini masalah pembocahan (infantization) yang terjadi di seluruh dunia.
Karenanya kita harus memiliki agenda sendiri dalam mendidik anak, baik anak
sekolah maupun tidak, kita perlu punya kurikulum sendiri agar anak kita mampu
aqil dan baligh pada saat bersamaan.
Sepanjang sejarah ummat
manusia, istilah remaja (adolescence, teenagers) baru dikenal di awal abad 20.
Ini akibat sistem kapitalisme , revolusi industri yg menginginkan kelas
konsumtif utk kepentingan industri. Jika kita ingin mengembalikan kesejatian
peran generasi anak anak kita, maka didiklah anak kita agar menjadi generasi
aqilbaligh di usia belasan tahun, lihatlah bagaimana para mujahid Islam
sepanjang sejarah sejak zaman Rasulullah SAW menjelang wafat sampai abad 20
kemarin, telah punya peran peradaban di usia belasan tahun?
Bunda Farda
Ustadz, untuk anak perempuan
upaya apa untuk menjaga fitrah kewanitaanya yang bisa dilakukan dengan project
di usia persiapan masa aqil balighnya? Jazakillah.
Ust. Harry Santosa
Bunda Farda yang
baik,
Anak wanita didekatkan pada
bundanya di usia 7 - 10, agar sebelum masa balighnya tiba, (sebelum mendapat
pelatihan peran-peran kewanitaan sesungguhnya di usia 11 - 14 tahun (sebagai persiapan
aqilbaligh), anak wanita telah memiliki wawasan tentang kerennya peran seorang
ibu.
Proyek itu berupa aktifitas
yang biasa seorang bunda lakukan, sejak memasak, merawat ayah, termasuk merawat
bayi dan merawat rumah, jika perlu ditambah dengan peran-peran klasik di masa
lampau, yaitu menjahit, merawat tanaman,dan menjaga benih tanaman, dan seterusnya.
Targetnya adalah sampai
keluar dari bibirnya "aku ingin menjadi ibu sejati seperti bunda".
Maka buatlah gairahnya untuk
menjadi ibu berlimpah-limpah dalam jiwanya. Inspirasikan bagaimana sejatinya
peran seorang ibu, namun dengan cara yang menyenangkan, dan membangkitkan gairah peran
kebundaannya. Berkreasilah dengan sekreatifnya untuk membuatnya demikian.
Bunda bisa juga mengajak berkunjung kepada umahat-umahat teladan di sekitar rumah.
Bunda Evi
Jika ada anak laki-laki yang menunjukkan tanda ke arah feminin, itu apakah karena faktor lingkungan seperti keluarga, pergaulan, atau dari dirinya sendiri? Jika hal itu terjadi, berarti sudah keluar dari jalur fitrahnya, bagaimana orang tua harus bersikap mengantisipasi? Dan apabila sudah terjadi bagaimana meluruskannya?
Ust. Harry Santosa
Bunda Evi yang baik
Yang jelas LGBT tidak dilahirkan, tetapi pengaruh lingkungan. Anak pria yang agak atau bahkan sangat feminim, itu karena hormonal progesteronnya meningkat akibat terlalu banyak bergaul dengan wanita dan peran-peran wanita di sekitarnya. Ya jelas sudah keluar dari fitrah, karena Allah tidak menciptakan kelamin selain wanita dan pria. Jika sudah kejadian, maka recovery-nya tergantung usianya. Jika masih di bawah 12 tahun, maka diupayakan lebih banyak bergaul dengan sesama jenisnya dengan peran-peran sesuai jenis kelaminnya. Jika sudah diatas 12 tahun, kadangkala memerlukan terapi khusus dan program dari psikolog.
Bunda Lina
Pertama, mungkin ada beberapa contoh kegiatan di sekolah usia dini untuk pendidikan menuju aqil baligh, Bapak Harry?
Kedua, dan sebagai orang dewasa yang kadang sering bertemu dengan anak-anak khususnya anak laki-laki, apa yang bisa kami lakukan untuk mendukung aqil baligh? #daripada hanya diam atau melakukan sesuatu yang kurang bermanfaat?
Ust. Harry Santosa
Bunda Lina yang baik,
Aqil dan baligh sejatinya tiba bersamaan secara alamiah apabila pendidikannya utuh untuk setiap fitrah pada setiap tahapan usia. Anak-anak PAUD misalnya seharusnya tidak menjadi SAUD, yang fokus hanya pada akademis seperti calistung. Tetapi porsinya lebih besar kepada kelekatan ayah bunda, bahas ibu yang utuh (berekspresi dengan jelas), sensomotorik dan psikomotorik di alam terbuka, kepemimpinan sederhana dengan memelihara ternak atau tumbuhan (bukan sekadar menyiram) dll. SAUD (Sekolah Anak Usia Dini).
Bunda Darwati
Kalo contoh kegiatan di sekolah dasar untuk pendidikan aqil baligh, Bapak Harry?
Ust. Harry Santosa
Bunda Darwati yang baik,
Untuk anak 7 -10 tahun, fitrah sosialnya sudah dimulai dan fitrah belajarnya sudah pada puncaknya. Maka untuk sosial dekatkanlah pada ayahnya, dengan peran-peran sosial, seperti sholat berjamaah, kerja bakti, mengunjungi panti asuhan, mengelola sampah, membetulkan perkakas rumah yang rusak dll. Fitrah belajarnya ditumbuhkan dengan belajar di alam terbuka dan belajar di dunia nyata. Jangan terlalu lama dalam ruang-ruang kelas yang fokus hanya pada akademis. Fitrah anak harus berinteraksi dengan fitrah alam dan fitrah kehidupannya.
Bunda Evi
Jika ada anak laki-laki yang menunjukkan tanda ke arah feminin, itu apakah karena faktor lingkungan seperti keluarga, pergaulan, atau dari dirinya sendiri? Jika hal itu terjadi, berarti sudah keluar dari jalur fitrahnya, bagaimana orang tua harus bersikap mengantisipasi? Dan apabila sudah terjadi bagaimana meluruskannya?
Ust. Harry Santosa
Bunda Evi yang baik
Yang jelas LGBT tidak dilahirkan, tetapi pengaruh lingkungan. Anak pria yang agak atau bahkan sangat feminim, itu karena hormonal progesteronnya meningkat akibat terlalu banyak bergaul dengan wanita dan peran-peran wanita di sekitarnya. Ya jelas sudah keluar dari fitrah, karena Allah tidak menciptakan kelamin selain wanita dan pria. Jika sudah kejadian, maka recovery-nya tergantung usianya. Jika masih di bawah 12 tahun, maka diupayakan lebih banyak bergaul dengan sesama jenisnya dengan peran-peran sesuai jenis kelaminnya. Jika sudah diatas 12 tahun, kadangkala memerlukan terapi khusus dan program dari psikolog.
Bunda Lina
Pertama, mungkin ada beberapa contoh kegiatan di sekolah usia dini untuk pendidikan menuju aqil baligh, Bapak Harry?
Kedua, dan sebagai orang dewasa yang kadang sering bertemu dengan anak-anak khususnya anak laki-laki, apa yang bisa kami lakukan untuk mendukung aqil baligh? #daripada hanya diam atau melakukan sesuatu yang kurang bermanfaat?
Ust. Harry Santosa
Bunda Lina yang baik,
Aqil dan baligh sejatinya tiba bersamaan secara alamiah apabila pendidikannya utuh untuk setiap fitrah pada setiap tahapan usia. Anak-anak PAUD misalnya seharusnya tidak menjadi SAUD, yang fokus hanya pada akademis seperti calistung. Tetapi porsinya lebih besar kepada kelekatan ayah bunda, bahas ibu yang utuh (berekspresi dengan jelas), sensomotorik dan psikomotorik di alam terbuka, kepemimpinan sederhana dengan memelihara ternak atau tumbuhan (bukan sekadar menyiram) dll. SAUD (Sekolah Anak Usia Dini).
Bunda Darwati
Kalo contoh kegiatan di sekolah dasar untuk pendidikan aqil baligh, Bapak Harry?
Ust. Harry Santosa
Bunda Darwati yang baik,
Untuk anak 7 -10 tahun, fitrah sosialnya sudah dimulai dan fitrah belajarnya sudah pada puncaknya. Maka untuk sosial dekatkanlah pada ayahnya, dengan peran-peran sosial, seperti sholat berjamaah, kerja bakti, mengunjungi panti asuhan, mengelola sampah, membetulkan perkakas rumah yang rusak dll. Fitrah belajarnya ditumbuhkan dengan belajar di alam terbuka dan belajar di dunia nyata. Jangan terlalu lama dalam ruang-ruang kelas yang fokus hanya pada akademis. Fitrah anak harus berinteraksi dengan fitrah alam dan fitrah kehidupannya.
Semoga bermanfaat! :)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar