![]() |
| Sumber : |
Neuroparenting, ada yang pernah belajar tentang ini? Jujur saya, ini ilmu baru untuk saya. Awal mulanya tahu tentang neuroparenting ketika Mbak Euis membahas tentang alergi, dr. Amir Zuhdi, dan neuroparenting di grup WA Institut Ibu Profesional Surabaya Raya. Asli, sebenarnya saya bingung, tapi sekaligus penasaran.
Alhamdulillah, kesempatan emas itu datang ketika Mbak Euis berbaik hati mau menyampaikan akan sharing hasil seminarnya bersama dr. Amir Zuhdi secara gratis. Wow! Padahal seminar itu harganya tujuh digit lho! Baik banget kan Mbak Euis ini. Matur nuwun nggih, mbak! Semoga jadi amal jariyah buat Mbak Euis! Amin.
Sekilas tentang dr. Amir Zuhdi, beliau adalah seorang dokter, neuroscience coach, sekaligus penggagas NeuroscienceForLife. Informasi lebih detil, monggo silahkan dibaca melalui web beliau disini.
Nah, setelah mengikuti sharing Mbak Euis apakah akhirnya saya paham? Well, terus terang saja belum paham, hehehe. "Catat dan telan dulu saja, Winny! Kalau masih belum paham? Belajar dari sang ahli!", begitu prinsip saya waktu itu. Maklum saja, background pendidikan saya bukan dunia medis/kedokteran, sementara banyak istilah medis tentang otak yang muncul waktu itu. Tapi rasa penasaran justru membawa sengaja saya hadir pada sharing waktu itu!
Baiklah, saya tidak ingin menyimpan catatan ini sendirian. Harapannya, kelak catatan ini bisa berguna buat yang lain. Nantinya catatan ini akan terbagi menjadi dua bagian supaya tidak bosan membaca banyak tulisan.
Bismillahirrahmanirrahim
Sharing is caring!
*****
NEUROPARENTING
Neuroparenting, terbagi dalam dua kata, yaitu neuro dan parenting. Neuro, diambil dari kata neuron (di dalam web dr. Amir Zuhdi) diartikan sebagai sel saraf. Sementara parenting, saya tidak menemukan istilahnya dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Kalau dalam salah satu web komunitas parenting, diartikan sebagai pekerjaan dan keterampilan orang tua dalam mengasuh anak. Hal ini sejalan dengan pemahaman teman-teman ketika sharing waktu itu, parenting sama dengan pengasuhan. Jadi neuroparenting bisa diartikan pengasuhan berbasis sel saraf (kerja otak).
WHY NEUROPARENTING?
Mengapa kita perlu belajar tentang neuroparenting :
Pertama : Immaturity dalam pola pengasuhan
Berikut adalah beberapa bukti ketidakdewasaan dalam pola pengasuhan :
- ibu mudah tersulut emosi ketika anaknya membuat ulah.
- ibu jadi terbawa perasaan ketika anaknya menangis.
- orang tua saat ini gampang memberikan "label negatif" pada anak.
- dll
Salah dalam memberikan reaksi pada anak, ternyata bisa kekerasan fisik dan verbal.
Kedua : Pengasuhan anak sejatinya terjadi di wilayah neuron (sel saraf yang membangun otak)
Pada dasarnya mengasuh itu sama dengan merajut. Apa yang dirajut? Neuron-neuron. Kapan merajutnya? Dari usia 0 sampai dengan 13 tahun. Mengapa? karena pada usia ini proses tersambungnya neuron-neuron yang ada di otak terjadi dengan sangat cepat.
FUNGSI NEUROPARENTING
- Membangun sinapsis antar neuron. Bayi baru lahir sudah memilih 100 milyar neuron ketika dia lahir. Melalui proses pengasuhan inilah sinapsis-sinapsis antar neuron tersebut dibangun.
- Memperlancar neurotransmitter, yaitu proses jalannya informasi informasi antar neuron. Neurotransmitter ini semacam listrik yang ada di otak.
- Membangun terjadinya aktivitas berulang, atau membentuk mielin.
APA TUJUAN NEUROPARENTING?
Tujuan neuroparenting adalah untuk mencerdaskan anak. Namun cerdas yang dimaksud dalam neuroparenting bukan hanya cerdas secara kognitif saja. Anak dikatakan cerdas, apabila memiliki kecerdasan sebagai berikut :
- Kecerdasan koqnitif, atau hal-hal yang berkaitan dengan keilmuan. Dalam otak, kecerdasan ini akan terlihat pada neo korteks.
- Kecerdasan emosi. Terletak pada sistem limbik di dalam otak.
- Kecerdasan sensori motorik. Kecerdasan ini terlihat pada batang otak.
INDIKATOR KEBERHASILAN NEUROPARENTING :
Kemampuan kalkulasi.
Kemampuan mengkalkulasi yang dimaksud disini bukan hanya kemampuan lebih dalam berhitung, tetapi juga kemampuan dalam berpikir logis, serta kemampuan untuk mempertimbangkan baik dan buruk (termasuk mempertimbangkan bermanfaat atau tidaknya sesuatu hal).
Kemampuan komunikasi.
Sebagai contoh, anak mampu mengutarakan keinginan atau pendapatnya, anak merasa nyaman ketika berkomunikasi dengan orang tuanya atau dengan orang lain.
Kemampuan self control.
Kemampuan untuk mengendalikan diri sendiri (baik dalam pengawasan atau tidak). Contoh dalam sharing, Mbak Euis menjelaskan tentang perbedaan anak penurut (patuh pada aturan karena takut) dan anak taat (patuh pada aturan karena sadar dan mengerti mengapa aturan itu dibuat). Anak penurut hanya akan patuh pada lingkungan yang mengkondisikannya demikian. Sementara anak taat, dia akan patuh lingkungan manapun (baik dengan pengawasan atau tidak).
Ada yang pernah tahu Marsmellow Test? Sebuah tes yang menggambarkan bagaimana anak-anak (sedang) belajar tentang self control. Buat yang belum tahu seperti apa gambarannya, bisa melihat video yang saya peroleh dari YouTube berikut ini :
Dalam otak manusia, kemampuan ini akan terlihat pada pre frontal corteks. Inilah bagian otak yang berfungsi untuk berpikir, merencanakan, juga memutuskan sesuatu. Di penjelasan berikutnya akan dibahas tips mengaktifkan bagian otak ini.
Kemampuan fisik.
Kemampuan fisik yang baik ini bukan hanya diukur dari sehat atau tidaknya kondisi fisik, tapi juga pada kemampuan untuk menjaga kondisi kesehatan fisik, termasuk mampu memilah dan memilih mana makanan yang baik untuk kesehatannya atau tidak.
#ibupembelajar
#ODOPfor99days #Day68
#stayhungrystayfoolish
#kosongkangelasnya

Baru baca euy. Moga bermanfaat ya mbaaaak :)
BalasHapus