7 Januari 2016

Guru Kecilku


Sepagian ini dia aktif kesana kemari dengan sepeda merah bekas kakaknya. Jika hari ini anak-anak lainnya bersepeda di luar rumah, namun sebaliknya dengan putra bungsuku ini. Pagi ini dia aktif bersepeda di dalam rumah kami. Koq boleh sih? Tentu saja. Kami ingin rumah kami ramah untuk anak-anak. Mereka boleh mengeksplor apapun yang ada di dalam rumah kami, sepanjang tidak membahayakan.



Sambil merajut, kuperhatikan pula aktivitasnya. Keenan terus bersepeda, dari ruang tamu ke ruang belakang. Bolak balik terus, seperti punya energi ekstra. Dia kayuh terus Si Merah menyusuri setiap lantai rumah kami. 

Sementara Alvin asyik dengan kreasi bloknya disampingku. Sesekali dia memperhatikanku yang sedang merajut. It's a free day. Kami bebas melakukan aktivitas favorit kami hari ini. 

Aaahh..sepertinya aku terlalu asyik merajut. Entah bagaimana ceritanya, kulihat Si Merah berakhir tergeletak di depanku. "Sepedanya bobok, ma!", kata Keenan. "Ooo.. capek ya?", tanyaku. "Iya", jawabnya singkat. Akupun tersenyum. 

Alvin yang awalnya duduk manis di sampingku, mendadak beranjak dari tempatnya. Dia berjalan ke arah meja kuning penuh laci, kemudian membuka salah satu laci dan menuangkan seluruh isinya ke lantai. "Ayo dik, bengkel-bengkelan!" begitu katanya. Seketika itu pula lantai jadi penuh dengan peralatan tukang milik ayahnya. Palu, obeng, tang, juga peralatan tukang lainnya, bahkan eks standart sepeda lama ikut tergeletak di lantai bersama Si Merah. Aku tersenyum menangkap maksudnya. 

Melihat kakaknya mengeluarkan semua peralatan itu, mata Keenan berbinar-binar. "Ayo, kak!", ucapnya penuh semangat. Mulailah aktivitas mereka, ketok-ketok palu, buka-buka baut walau gagal, ketok-ketok lagi. Dicobanya segala peralatan tukang itu pada badan Si Merah. Hadeehh, ini kalau Pak Dirut (baca : suami) tahu bisa berabe nih.

Mendadak Pak Dirut muncul dan melihat aktivitas mereka. "Sssstttt!", kataku seraya memberikan isyarat untuk membiarkan mereka tetap bermain. Awalnya kaget, tapi kemudian kulihat tarikan senyum di wajahnya. Alhamdulillah.

Selang tiga puluh menit kemudian, kakaknya berhenti bermain dan kembali pada aktivitas semula. Putra bungsuku ini masih terus bermain. Kali ini bukan hanya ketok-ketok saja, intip sana, intip sini, bahkan sampai jungkir balik di balik badan Si Merah.

sumber foto : koleksi pribadi

Emang Si Merah beneran rusak ya? Tentu saja tidak. Tapi mungkin saja setelah diketok-ketok tadi, akhirnya banyak badan Si Merah yang berubah bentuk, hahahaha. 

***

Ketika aku browsing sana sini mencarikan menu belajar untuk Keenan yang terlihat dominan as a kinestetik learner, hari ini aku tersadar. Ternyata putra pertamaku justru dengan spontannya menemukan ide permainan untuk adiknya. Pretend Play atau bisa dikenal dengan bermain peran. Salah satu permainan yang juga akan memaksimalkan gerak tubuh Keenan. Hari ini dia mengajak adiknya bermain peran jadi montir. Luar biasa idenya, kakak! Kreatif sekali! Keenan pun sangat menikmati permainan hasil ide kakaknya itu. Kolaborasi yang menarik.

Teruslah bermain, putra-putraku. Teruslah menggali dan mengeksplor sekelilingmu. Jadilah gunung tertinggi pada potensi kalian masing-masing nanti!

Hari ini, lagi dan lagi, Alvin memberikan kejutannya. Sebuah ide permainan yang tidak terpikir olehku. Rasanya seperti tertampar. Alvin, putra pertamaku yang agaknya akan terus menjadi guru kecilku. Dia selalu muncul dengan kejutan-kejutannya yang penuh makna, juga pembelajaran. Padahal berbagai kesalahan pernah kubuat semenjak kelahirannya. Semua akibat kedangkalan ilmuku tentang pengasuhan anak. Bahkan sampai saat ini pun, aku masih harus berproses untuk memperbaiki diri dengan menimba banyak ilmu parenting dari sekitar, termasuk dari guru kecilku ini.

sumber foto : koleksi pribadi

Terima kasih untuk kejutan manisnya, sayang. Terima kasih untuk pembelajarannya.
Terima kasih tak terhingga untukmu, guru kecilku. :)


#ODOPfor99days #day4

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...