Awalnya saya tidak mengerti maknanya. Beberapa kali coba mencerna, tetap saja gagal paham. Seingat saya, kalimat itu pertama kali saya dengar dari Ibu Septi Wulandani (founder Ibu Profesional), ketika beliau bercerita tentang pertemuan ketiga putra putrinya dengan Abah Rama untuk pemetaan bakat.
Lamban laun, ketika perjalanan menjadi ibu pembelajar berusaha dilakoni dengan sungguh-sungguh, satu per satu "guru hebat" yang dulu hanya bisa saya kagumi lewat media cetak atau media sosial, ternyata Allah memberi kesempatan dan kemudahan untuk bertatap muka plus berdialog langsung dengan para murobbi (pendidik) ini.
Subhanallah. Alhamdulillah. Allahu Akbar.
*hhhmmm.. sedikit demi sedikit saya mulai paham maknanya.
Beberapa orang menyebutnya dengan Mestakung (Semesta Mendukung). Maksudnya ketika kita bersunggguh-sungguh menjalani sesuatu (bukan cuma suam-suam kuku alias asal), maka semesta akan mendukung dengan sumber dayanya. Atau ada yang menyebutnya dengan istilah Law of Attraction (Hukum Tarik Menarik). Apa yang kita pikirkan / fokuskan, maka itulah yang sebenarnya akan kita tarik masuk ke dalam hidup kita. Atau ada yang punya istilah lain lagi?
Ketika muridnya siap, gurunya datang.
Sependek pemahaman saya, ketika kita bersungguh-sungguh menjalani sesuatu, berusaha terus memantaskan diri akan hal itu, maka Allah akan mempertemukan kita dengan para ahli bidang tersebut, entah bagaimana caranya.
Koq bisa? Ya bisa, bukankah Allah Maha Kuasa? Tidak perlu terus bertanya bagaimana caranya, tugas kita cukup bersungguh-bersungguh menjalani proses dan terus memantaskan diri menjadi "murid yang baik", nanti Allah lah yang akan mengatur pertemuan dengan ahlinya.
Dan pengalaman itulah yang kemudian terjadi pada saya sepanjang tahun 2016 lalu.
#1. Bertemu dengan komunitas menulis di ODOPfor99days.
Niat awalnya ingin melatih jari jemari supaya lancar menulis, plus mengisi blog Rumah Agrapana ini. Maklum, baru nempati "kontrakan" anyar alias blog gratisan, jadi rumah mayanya perlu diisi banyak perabot tulisan. Tapi nyatanya, saya malah dapat banyak ilmu menulis dari para penulis keren dan blogger beken. Nggak tanggung-tanggung, 8 penulis dan blogger kondang diboyong Teh Shanty masuk ke dalam komunitas ini. Ada Anwar Fuadi, Adjie Silarus, Tasaro GK, Monica Anggen, Carolina Ratri, Langit Amaravati, Dian Kristiani, dan last but not least Dee Lestari.
#2. Bertemu dengan keluarga Padepokan Margosari.
Sejak bergabung dengan komunitas Institut Ibu Profesinal kurang lebih 2 atau 3 tahun lalu, salah satu impian besar saya adalah bertemu dengan beliau berdua, yaitu Bapak Dodik Mariyanto (Coach Padepokan Margosari) dan Ibu Septi Peni Wulandani (founder Institut Ibu Profesional). Selalu saja ada yang istimewa dari beliau berdua yang bisa dipelajari. Dan Subhanallah, di pertengahan tahun 2016, Allah memberikan kesempatan istimewa itu. Bukan hanya bertemu dan belajar langsung, tapi sekaligus menjadi bagian dari super tim Workshop "How to be Profesional Parents" yang dihelat oleh Institut Ibu Profesional Surabaya Raya. Kebayang nggak gimana perasaan saya waktu itu? Luar biasa senangnya! *cerita detilnya lain waktu aja ya, hehehe.
![]() |
| Foto : dokumen pribadi |
#3. Belajar Neuroparenting bersama dr. Amir Zuhdi
Beliau ini adalah seorang dokter, sekaligus pakar neuroscience. Berawal dari sharing ilmu gratisan dari Mbak Euis Kurniawati disini dan disini. Mula-mula asing, karena banyak istilah otak yang bikin roaming, tapi entah kenapa saya malah semakin tertarik untuk belajar. Asli, saya jadi ingin tahu lebih banyak hubungannya parenting dengan orderdil otak. "Saya harus bertemu beliau!", pikir saya waktu itu. Dan alhamdulillah, lagi-lagi Allah mengatur pertemuan saya dengan beliau di bulan Oktober 2016.
#4. Bertemu dengan Abah Rama Royani (Tallent Mapping)
Adakah yang sampai hari ini belum paham potensi unik dirinya? Tampaknya Anda harus bertemu dan belajar dari guru hebat satu ini, Abah Rama Royani (mastah-nya Tallent Mapping).
Gagal bertemu beliau pada workshop Tallent Mapping yang diselenggarakan di Malang (karena jadwal bentrok dengan agenda keluarga), rupanya belum memupus keinginan untuk memahami potensi diri. "Pokok e aku kudu melu Tallent Mapping, embuh piye carane!". Keinginan kuat itu yang menggiring saya menghubungi Lead Pro Jakarta. Dari hasil pembicaraan disarankan untuk ikut assesment-nya di Surabaya saja. Alhamdulillah, nggak kejauhan.
Pada saat konsultasi pembacaan hasil tes itulah saya sampaikan kepada Ibu Ita (pimpinan Padmakon) keinginan saya untuk bisa belajar langsung dari Abah Rama, "Ibu, sepertinya bukan cuma saya yang butuh, tapi teman-teman saya yang lain juga sangat membutuhkan TM ini, apalagi kalau bisa belajar langsung dari beliau".
Subhanallah. Gayung bersambut. Di bulan November 2016 lalu, Padmakon mengadakan workshop "Menggali Potensi Diri dengan Tallent Mapping" di Surabaya. Istimewanya lagi, di workshop tersebut Abah Rama Royani berduet dengan Ibu Septi Peni Wulandani. Wow, dua guru hebat hadir bersamaan! Bertemu, berbincang, dan ngelmu pada beliau berdua itu sesuatu banget. Alhamdulillah.
![]() |
| Foto : dokumen pribadi |
5. Belajar desain bersama Mbak Trisa Dini Daswan (Emadina Studio)
Saya ini termasuk pengagum desain-desain beliau. Pemilik Emadina Studio ini memikat hati saya ketika beliau mendesain backdrop yang hendak kami gunakan untuk Workshop "How to be Profesional Parents" Institut Ibu Profesional Surabaya. Lembut, cantik, dan elegan, itulah kesan pertama yang muncul ketika melihat backdrop kami waktu itu.
Boleh dibilang untuk urusan desain ini, saya termasuk newbie. Beberapa desain yang berhasil dibuat sebatas untuk keperluan pribadi, seperti bookmarker hasil tallent mapping, kartu nama diri, juga poster self reminder. Itupun buatnya pakai canva (aplikasi gratisan), hehehe.
Satu desain yang kemudian mengingatkan saya kembali pada Mbak Trisa adalah desain e-flyer "Workshop Decoupage" untuk teman-teman Rumbel Craft Surabaya. Desain itu saya buat memakai aplikasi Photo Collage yang ada di gadget pribadi. *maklum kepepet waktu, jadi bikin sebisanya aja. Ternyata, teman-teman suka, bagus dan cantik katanya. *padahal menurut saya terlalu girly, hehehe.
![]() |
| Foto : dokumen pribadi |
Selepas mendesain e-flyer itu, saya menyampaikan ke dua orang teman IIP Surabaya, "Pengen belajar nge-desain kayak Mbak Trisa nih". Tak berselang lama, kemudian muncul pesan dari Mbak Lya dan Mbak Farda, "Mbak Trisa buka kelas desain gratis, Mbak Win!". Alhamdulillah. *jingkrak-jingkrak. Dan meluncurlah saya masuk ke dalam kelas Mbak Trisa.
Dan benar kan, ketika muridnya siap, gurunya akan datang.. :)
*****
Itu adalah sekelumit kisah perjalanan si ibu pembelajar ini tahun lalu. Masih ada beberapa guru yang hendak ditemui di tahun 2017 ini. Dan ibu pembelajar ini masih harus berproses memantaskan diri sebelum bertemu dengan sang ahli. Semoga Allah SWT mengizinkan dan memudahkan. Aamiin...
#ODOPfor99days
#Day2




Tidak ada komentar:
Posting Komentar