21 September 2016

Learn How to Learn




Kurang lebih enam bulan yang lalu, ketika membaca buku Bunda Cekatan, saya sempat bertanya dalam hati, "Kenapa materi ini ditaruh di awal kurikulum Bunda Cekatan ya??". Sebenarnya sampai hari ini pun saya masih berusaha menangkap maknanya.

Sejauh yang saya pahami sampai hari ini (semoga benar), Learn How to Learn atau Belajar Bagaimana Caranya Belajar (itu terjemahan bebas ala saya), sepertinya bertalian dengan materi Fitrah Based Education Ustad Harry Santoso. Berkorelasi dengan salah satu "chip" yang sudah diinstal Allah pada diri tiap insan, yaitu "Fitrah Belajar". Fitrah yang sejatinya harus terus ditumbuhkan, kuat dan mengakar dalam diri (khususnya ibu), demi satu peran dan tugas mulia, yaitu menjadi ibu pembelajar.

Sampai pada titik ini tersadar, kuncinya ada pada saya, "ibunya mesti tuntas lebih dulu". Bagaimana fitrah belajar Alvin dan Keenan bisa tumbuh jika saya tidak paham bagaimana cara menumbuhkannya. Bukankah mereka punya banyak hal yang berbeda dari zaman saya dulu? Makna belajar berbeda, cara belajar berbeda, bahkan bisa jadi semangat belajarnya juga beda.

Bagaimana saya bisa "meninggikan gunung" keunikan mereka masing-masing, jika saya tidak paham strateginya. Lantas, bagaimana pula saya bisa memandu mereka belajar mengenali dirinya, jika faktanya saja saya masih gagap mengenali diri sendiri. Saya gagal paham passion saya apa, kekuatan saya dimana, atau kelemahan saya macam mana. Saya cuma tahu kalo saya visual learner (itupun baru benar-benar sadar setelah ikut salah satu webinar Bunda Sayang bersama Bu Septi). Hadeehhh.. #tutup muka

For things to change I must change first. Berangkat dari kondisi galau bin baper akibat gagal paham potensi diri, akhirnya menggiring saya mengikuti Tallent Mapping Asessment (TMA) mandiri di Surabaya Timur beberapa waktu lalu. Hasilnya? Hhhmmm... berasa dapat "petasan" di siang bolong. Bikin tertegun, tercengang, terperangah, bahkan tersentak.

bookmarks and self reminder
Empat belas potensi bakat diri akhirnya dipetakan (tujuh urutan sangat kuat dan tujuh lainnya bernilai kuat). Konsultasi 2,5 jam pun full dijalani demi pemahaman konsep diri supaya terang benderang.
*Hasil TMA-nya akhirnya saya utak atik pake canva jadi pembatas buku biar selalu ingat.. Sengaja dibuat dalam posisi acak biar lebih dapat inside feeling-nya*

Sudah selesaikah proses belajarnya? Nope! Indikator "profesional" sebagai diri, istri dan ibu sedang coba dibuat dalam 3 pekan kedepan sebagai bagian dari usaha untuk fokus pada track yang sekarang saya miliki.
*Key Performance Indicator atau KPI per segmen ini jadi salah satu master mind saya untuk dituntaskan hingga minggu pertama bulan Oktober*

Namun satu hal penting, dan baru-baru ini masuk dalam box harta karun saya adalah "Fitrah belajar anak-anak akan tumbuh seiring dengan berseminya fitrah belajar sang ibu". Maka tak pelak, emaknya Alvin dan Keenan ini harus melakoni proses Tazkiyatun Nafs secara kontinu. Termasuk mengganti gentong rileks jadi ukuran jumbo. Menikmati setiap momen bersama anak-anak, tanpa perlu menggegas. Mensyukuri sekecil apapun nikmat yang Allah berikan, tanpa perlu meratap.

Bismillah.. semoga Allah SWT kian mempermudah langkah, dan meneguhkan tekad, demi dua amanah  besar yang saat ini sedang diemban. Aamiin..

Dont teach me, I love to learn..

*mulai pasang kacamata kuda, fokus lurus on track*


#SODBundaCekatan
#ibupembelajar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...