4 April 2016

Robot Mama with Magic Password


"Mama, aku mau susu!", pinta Keenan.
Aku tak bergeming mendengar permintaannya, hanya tersenyum saja padanya.
Kulihat Keenan memang kehausan setelah loncat sana sini. Napasnya terengah-engah. Keringat bercucuran membasahi bajunya. Diapun mulai kesal ketika melihatku tidak beranjak untuk memenuhi permintaannya.

"Mama, susu.. aku mau susu!", pintanya lagi dengan sedikit memaksa.
"Mintanya lebih sopan, nggih! Coba diulang!", jawabku sambil tersenyum, namun tetap tidak beranjak.
Dia semakin gusar.
"Ya Allah, mama ini. Aku ini mau susu! Aku mau susu, ma!", suaranya semakin tinggi.

Deg. Aku terkejut mendengarnya. Sepertinya putra bungsuku ini lupa kalimat ajaibnya. Hhhmmm.. Mencoba menahan diri untuk tidak mengucap kalimat yang nantinyakusesali. Aha! Aku punya ide. Sejenak kemudian aku berdiri, tepat di hadapan Keenan. Baiklah, waktunya beraksi!

"Bib bib..Bib bib.. Aku robot mama! Siap membantu siapa saja!..Bib bib.. Bib bib", kataku bergaya ala robot dengan gerakan patah-patah.
Keenan pun meringis melihatku. Alvin datang dan tertegun. Dia kebingungan dengan aksiku kali ini
"Halo! Siapa namamu?" Bib bib.. Bib bib, kataku pada Keenan.
"Keenan", jawabnya sambil tertawa kecil. Dia tertarik memperhatikanku yang masih bergaya ala robot. Sementara Alvin tertawa kecil melihatku.
"Bib bib. Bib bib. Halo, Keenan! Ada yang bisa dibantu?", tanyaku padanya
"Aku mau susu!", katanya ragu-ragu.
"Maaf, permintaan tidak diterima. Sebutkan passwordnya! Bib bib. Bib bib.", kataku padanya.
Dia mengernyit. Sepertinya tidak paham maksudku.
"Maaf, permintaan tidak diterima. Sebutkan passwordnya! Bib bib. Bib bib", kataku lagi pada Keenan.
Akupun terus mengulang kalimat itu. Alvin paham maksudku, kemudian ia pun membantu adiknya, "Keenan bilang tolong ke robotnya! Minta tolong bikinin susu, gitu"
Aku tersenyum mendengar kalimat Alvin. Rupanya dia ingat kalimat ajaib jika butuh bantuan.
"Hehehe. Robot, minta tolong bikinin susu ya! ", kata Keenan manis sekali.
"Permintaan diterima. Terima kasih. Mohon tunggu sebentar!" kataku.
Aku pun mulai berjalan. Tetap dengan gaya patah-patah. Alvin dan Keenan tertawa terpingkal-pingkal melihatku, "Mama lucu!".

Jangan ditanya raut mukaku saat itu. Jelas memerah seperti tomat yang baru saja dipanen karena menahan malu. Tak apalah. Aku berusaha menghiraukan semua itu. Yang terpenting, anak-anak paham maksudku.

Beberapa waktu kemudian.

"Bib bib.. bib bib.. Ini susunya! Silahkan diterima!", kataku sambil menyerahkan susu. Sengaja kupegang erat wadah susu itu ketika Keenan hendak mengambilnya.
"Maaf, sebutkan passwordnya!", kataku lagi
"Terima kasih, robot!", jawab Keenan dengan manis.
"Terima kasih kembali, Keenan!", jawabku.
Alhamdulillah. Semoga dengan cara seperti ini lebih membekas di hati kalian.

*****

Three magic words : Tolong, Maaf, dan Terima kasih. Tiga kata ajaib yang sering dilupakan dalam komunikasi. Kata sederhana, namun memberi dampak luar biasa pada kepribadian seseorang.

Sebenarnya tiga kata ini sudah sering kami ajarkan dalam rumah kami. Namun, entah karena lupa, khilaf, ataupun sengaja, tiga kata ini sering  menghilang dalam pembicaraan kami. Jangankan anak-anak, saya saja sering lupa. Tidak heran ketika kemudian Keenan juga lupa mengucapkannya. Mungkin karena lebih sering mendengar kalimat perintah dari mamanya. Astagfirullah hal adzim.

Hari ini, ketika Keenan lupa dan emaknya sedang dalam kesadaran penuh, kembali mengulang pembiasaan kata-kata tersebut. Kali ini bukan dengan perintah untuk mengucapkan, tapi dengan permainan menyenangkan.

Memendam harapan penuh pada kedua pasukan sholihku, agar kelak kata-kata itu terpatri pada diri mereka, hingga menjadi sebuah kepribadian.

Kelak ketika kalian terbiasa mengucapkan kata "tolong", kata itu akan mengikis habis perilaku angkuh gemar memerintah. Menjadikan diri kalian sosok pemimpin rendah hati.

Kelak ketika kalian terbiasa mengucapkan kata "terima kasih", kata itu akan mengikis habis perilaku egois gemar mementingkan diri sendiri. Menjadikan diri kalian sosok pemimpin santun yang selalu menghargai sesama.

Kelak ketika kalian terbiasa mengucapkan kata "maaf" , kata itu akan mengikis habis perilaku takut salah, enggan memaafkan, juga malu mengakui kesalahan. Menjadikan diri kalian sosok pemimpin pemberani. Berani mengakui kesalahan, juga berani untuk selalu memberi maaf.

Ya.. rasanya tidak ada cara terbaik menumbuhkan good attitude, kecuali dengan teladan juga pembiasaan berulang. So, for things to change, I must change first!


#ODOPfor99days #Day66
#ntms

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...