Bersyukur atas apa yang ada pada diriku, atas semua yang Allah telah berikan padaku, dengan caranya yang sangat indah, Dia mempertemukanku dengan orang-orang hebat.
Almarhumah Sutiyeh binti Satiman ini salah satunya. Kami biasa memanggilnya Budhe Tiah. Beliau adalah khadimat (Asisten Rumah Tangga) kedua kami. Beliau meninggal karena sakit dua hari yang lalu. Ketika pertama kali berada di rumah, melalui dia, saya seperti diingatkan lagi untuk mengulang pelajaran tentang thaharah atau bersuci. Katanya waktu itu, "Mesti ati-ati mbak sama najis, biar sholatnya sah!". Hhhhmmm.. setelah kupelajari lagi ternyata ini memang pelajaran mendasar, menjadi bab pertama dalam Hukum Fiqih. Pantas saja sangat hati-hati, rupanya beliau sangat paham jika tanpa
thaharah, ibadah tidak sah. Bila ibadah tidak sah,
maka tidak akan diterima Allah. Kalau tidak
diterima Allah, maka konsekuensinya adalah kesia-siaan. Luar biasa sekali pelajaran ini. Terima kasih budhe telah mengingatkan. Dengan prinsipnya itu, saya memang tidak pernah khawatir urusan kebersihan rumah kami waktu itu, walaupun thaharah tidak selalu identik dengan kebersihan sih, meskipun tetap punya hubungan yang kuat dan
seringkali tidak terpisahkan, hehehehe. Sekarang walaupun beliau sudah tidak bersama kami lagi, Insya Allah pelajaran itu telah membekas dalam benak kami, terutama saya.
Beliau ini adalah perempuan biasa namun luar biasa hebatnya. Kejujuran dan sikapnya yang amanah tidak perlu diragukan, banyak tetangga kami yang mengakuinya. Sebelas tahun menikah tanpa dikaruniai seorang anak ternyata juga bukan halangan baginya untuk menyayangi kedua putra kami, Alvin dan Keenan. Kesabaran dan kehandalannya mengurus buah hati kami juga patut diacungi banyak jempol. Tidak pernah terdengar amarah sedikit pun darinya, bahkan ketika kedua putra kami menguji kesabarannya dengan ulah khas anak-anak. "Aku kan ndak punya anak mbak, jadi ya wis Kakak sama Keenan tak anggap kayak anakku sendiri". begitu katanya waktu itu.
Beliau ini sayang sekali dengan suaminya. Sepertinya memang tidak pernah terlintas niat sedikitpun untuk menikah lagi. Pernah suatu hari saya sampaikan secara tersirat padanya, “Budhe, nanti kalo mau nikah lagi, bilang jauh-jauh hari sebelumnya ya!”. Waktu itu sambil tersenyum dia jawab, “Kalo aku nikah lagi, nanti aku ndak ketemu suamiku di surga mbak”. Wow..luar biasa sekali jawabannya. Saya tidak menyangka dia memberi jawaban seperti itu. Rasanya hanya cinta yang mendalam, kesetiaan dan komitmen tinggi atas pernikahan yang mampu membentuk jawaban itu. Kini harapan terbesarnya telah menjadi nyata, bersanding kembali dengan suami tercinta di surgaNya.
Sekarang kami menyadari jika Budhe Tiah memang sengaja dikirimkan Allah ke rumah kami, untuk memberi banyak pelajaran berharga kepada kami. Terima kasih banyak, Ya Allah. Terima kasih banyak, Budhe Tiah. Doa kami selalu untukmu.
Semoga Allah senantiasa mempertemukan kami kembali dengan orang-orang hebat lainnya di luar sana, mereka yang akan menjadi guru kami. Amin..amin ya rabbal 'alamin.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar